Minggu, 17 Maret 2013

Sebuah Janji



 Karya : Rai Inamas Leoni


“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”

Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Cindai harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Cindai jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.

“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” rutuk
Cindai. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Cindai merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak
Cindai berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Cindai benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Cindai nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Cindai mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau
Cindai terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.

Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya,
Cindai yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.

“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.

“Makan tuh sakit!!” ejek
Cindai sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Cindai pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.
***

Cindai….”

Cindai menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Marsha teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Cindai membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Cindai emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Marsha malah menjitak kepalanya dari belakang.

“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap
Marsha dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.

“Sori deh
Sha. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas
Marsha panjang lebar.

“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?”
Cindai benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.

“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian
Bagas lho.”

“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah
Cindai membela diri.

Sejenak
Marsha terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Marsha polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Bagas nggak suka sama gue.”

“Tau ah gelap!”
***

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah.
Cindai sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Masrha masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas
Cindai menjitak kepala Marsha. “Duluan ya, sha. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Marsha hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.

Saat
Cindai membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Cindai kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Cindai langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”

Jujur
Bagas udah bosen kayak gini terus sama Cindai. Dia pengen hubungannya dengan Cindai bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Marsha.” ucap Bagas dingin sambil celingak celinguk mencari Marsha. “Hey Sha!” ucap Bagas riang begitu orang yang dicarinya nongol.

“Hey juga. Jadi nih sekarang?”
Marsha sejenak melirik Cindai. Lalu dilihatnya Bagas mengangguk bertanda mengiyakan. “Cindai, kita duluan ya,” ujar Marsha singkat.

Cindai hanya bengong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Marsha dan Bagas yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Bagas selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Bagas tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Bagas juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.
***

Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut
Cindai hingga menetes ke kemeja putihnya. Cindai nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.

“Maksud lo apa?” bentak
Cindai menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.

“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut
Cindai. “Ma, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Cindai. Salma langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.

“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak
Cindai dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Chelsea. Chelsea terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Cindai diem aja. Ia juga tau kalo Chelsea satu kelas dengan Bagas. Wait, wait.. Bagas??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Gas, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!

“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak
Cindai sambil mendorong Chelsea dengan sadisnya. Cindai benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.

Kedua teman
Chelsea, Salma dan Angel dengan sigap mencoba menahan Cindai. Tapi Cindai malah memberontak. “Buruan Chel, ntar kita ketahuan.” kata Salma si cewek sawo mateng.

Selang beberapa detik,
Chelsea kembali mengguyur Cindai dengan fanta jeruk. “Jauhin Bagas. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Bagas. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Bagas?!!”

“Maksud lo?” ledek
Cindai sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Bagas. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”

Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi
Cindai. “Tapi lo seneng kan?” teriak Chelsea tepat disebelah kuping Cindai. Kesabaran Cindai akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan
Cindai mengenai tepat di hidung Linda. Chelsea yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Cindai kalah. Tak perlu lama, Cindai sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.

“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu,
Cindai juga ingin, tapi tertutup oleh Chelsea. Dari suaranya Cindai sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.

“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar
Cindaia melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Cindai dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Ndai?”

“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi.
Cindai dan Bagas berada di ruang UKS. Cindai membaringkan diri ditempat tidur yang tersedia di UKS. Bagas memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Cindai. Cindai lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Bagas nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.

“Ntar lo pulang gimana?” tanya
Bagas polos.

“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab
Cindai jutek. Rasanya Cindai makin benci sama yang namanya Bagas. Gara-gara Bagas dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Bagas nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.

“Tadi itu cewek lo ya?” ucap
Cindai dengan wajah jengkel.

Bukan.”
 
“Trus kok dia
ngelabrak gue? Pake nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Cindai kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Bagas. Aduuuhh…

Bagas sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Bagas sambil menunjuk Cindai.

Cindai diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Bagas menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Bagas.
 
“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”
 
“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas
Bagas sejelas-selasnya. Bagas pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam
Cindai. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.
 
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak
Bagas menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
 
Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap
Cindai sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Cindai, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Bagas karena Marsha juga suka Bagas. Tapi sekarang?

“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.”
Bagas berbicara tepat saat Cindai sudah berada di ambang pintu UKS.

Cindai diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Bagas yang termenung sendiri.
***

Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah.
Marsha belum datang. Cindai sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Cindai nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Bagas selalu terbesit di benaknya. Apa benar Bagas pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Bagas mau pindah apa nggak, batin Cindai. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”

“Mikirin
Bagas maksud lo?” ucap Marsha tiba-tiba udah ada disamping Cindai. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Marsha mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Cindai membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Cindai dan Bagas saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.


Dear Cindai,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini karna gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.

“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka
Bagas tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Marsha tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Bagas. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”

“Thanks
Sha. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Cindai tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
Marsha terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Bagas suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Bagas. Janji?” lanjut Marsha sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya
Cindai menolak. Marsha terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Marsha belum sepenuhnya melupakan Bagas. Tapi Cindai juga tak ingin mengecewakan Marsha. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.

“Janji..” gumam
Cindai lirih.
***


2 komentar:

  1. ceritanya keren,bagus dan lucu

    BalasHapus
  2. http://nalurerenewws.blogspot.com/2018/08/taipanqq-bahaya-bila-area-kewanitaan.html

    Taipanbiru
    TAIPANBIRU . COM | QQTAIPAN .NET | ASIATAIPAN . COM |
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 8 Permainan.
    BandarQ
    AduQ
    Capsasusun
    Domino99
    Poker
    BandarPoker
    Sakong
    Bandar66

    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : E314EED5

    Daftar taipanqq

    Taipanqq

    taipanqq.com

    Agen BandarQ

    Kartu Online

    Taipan1945

    Judi Online

    AgenSakong

    BalasHapus