Minggu, 17 Maret 2013

Akhir Cerita Indah [Partt 1]



Karya : Dyas Aliffauzan

mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku
asal kau pun bahagia dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah  bahagia untukku, bahagia untukku

ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

lagu itu terngiang di telinga
Bagas. Lagu yang dalam beberapa bulan ini terus dia putar. CINTA DALAM HATI. 3 kata magic yang membuat semua orang bisa berubah. Bagas sendiri bingung apa makna dari 3 kata itu. kata yang indah namun sangat menyakitkan bila di rasa. Mungkin memendanm cinta tidak selalu buruk. Terkadang memendam perasaan itu adalah hal yang terbaik. Gak selamanya perasaan itu harus diungkapkan. Apalagi jika itu gak memungkinkan. Yah… cinta tak harus memiliki. Mungkin itu yang paling simple. Tapi apa semua orang bisa menerima kata itu?

Bagas melirik arlojinya yang masih berdetak di angka 11. Pikiran cowo itu sedang terbang bersama laju mobilnya yang tidak terlalu kencang. Rasa gelisah menyelimuti hatinya. Bagas berpikir kenapa cinta itu harus rumit?? Serumit benang wol yang dililit kusut. Susah untuk mengurainya apalagi membuatnya menjadi indah. Tapi apapun itu cintanya saat ini tanpa alasan. Cinta dalam hatinya!! mungkin menyimpan cinta dalam hati sesuatu yang abstrak. Apalagi untuk cowok! Semua akan menganggap Bagas tidak gentle karena hanya bisa memendam perasaannya, tapi bukan itu alasan kenapa dia melakukannya. Bukan karena takut! Tapi memang belum saatnya dan Bagas gak mau kalau perasaannya dapat membuat orang lain terluka

Handphone
Bagas bergetar. Diliriknya hp yang berada di atas dasbord. Seketika itu wajah muramnya berubah ceria
“iya hallo
ndai?”
Gas, cepet ke kampus. Gue mau cerita”
“apa?”
“ada deh. Cepet ya
gue tunggu. Bay”

Sambungan telfon terputus.
Bagas kembali meletakan Hpnya. Senyumnya yang sumringah kini berubah jadi kecil. Tapi toh itu gak mengurangi rasa bahagia dalam hatinya. cinta emang berjuta rasanya. Hal yang bisa membuat kita jadi aneh… terutama Bagas. Entah kenapa dengan mendengar suaranya di telfon itu sudah cukup memberi bunga dihatinya. Kedengarannya konyol tapi semuanya memang realita. Cowo itu kembali fokus pada lagu cidaha yang masih dia putar. Kebiasaan barunya. Memutar lagu itu berulang-ulang. Mungkin benar kita bisa meluapkan perasaan dengan bernyanyi. Yah itu baik kan dari pada gak meluapkannya sama sekali.

Tanpa terasa Honda jazz hitam  itu telah menginjak area parkir. Melamun memang membuatnya terasa cepat
Bagas berjalan kearah taman kampus. Sebenarnya hari ini dia ingin libur. Toh sekarang hari sabtu tapi Bagas sengaja ke kampus untuk mengurus senatnya. Dan satu lagi alasan gila cowo itu………….
Bagas….” senyumnya kembali merekah. Di otaknya kembali terngiang lagu yang beberapa menit lalu dia dengar
“hai
ndai” cowo itu berjalan kearah bangku panjang. Tempat seorang gadis menunggunya
“dateng juga loh. Eh gue mau cerita loh…”
Cindai. cewe itu tersenyum manis. Senyumnya sudah sangat terekam dalam otak Bagas
“tentang apa
ndai?”
Marsha” mendengar nama itu terlontar dari mulut Cindai. senyum di bibirnya mendadak surut. Bagas sudah bosan mendengar cerita Cindai tentang Marsha. ya memang itu bukan salah Cindai tapi… ahhh andai aja Cindai tau yang sebenarnya
GasMarsha tuh beneran suka sama lo. Dia sayang sama lo tulus. Lo gak tau ya dia tuh seneng banget kalo lo ada dideketnya. Dan satu lagi. Elo first love dia. Bayangin Gas. Betapa berharganya lo buat Marsha
“tapi
ndai…” ucapan Bagas seperti menggantung. Entah untuk berapa kali dia harus bilang kalo dia menganggap Marsha hanya sebatas teman!
Gas… buka sedikit hati lo untuk dia. Pasti lo bisa” Cindai memegang lengan kekar Bagas. Jujur itu membuat Bagas sedikit salah tingkah tapi dia berusaha kembali ke alamnya semula
“gak segampang itu… lo harus ngerti posisi gue” suara
Bagas begitu lembut. Dalam hatinya dia ingin berteriak kalo hatinya saat ini sudah terisi dan gak mungkin dia ganti dengan mudah. CINDAI. lo orangnya Ndai
“gue tau tapi seenggaknya lo bales perhatian dia. Dia sering kan bawain lo makanan,sms lo,dan segala hal yang lo suka pasti dia tau”
Bagas seperti berada diujung jurang, kebimbangan membuatnya ingin jatuh ke bagian terdalam. Andai Cindai tau kalo dialah cinta dalam hati itu, kalo dialah yang gak mungkin membuat Marsha lebih dari teman untuknya. Tapi Bagas gak mempunyai keberanian untuk itu. semuanya terlalu rumit untuk terpecahkan
Gas… ko lo malah diem si”
“hmhm gak papa
ndai
“ayolah. Lo kan cowo, jangan sampe lo buat hati cewe selembut
Marsha jadi hancur” sivia menatap cowo itu dalam. Tatapan yang membuat Bagas melayang tapi… bukan itu yang dia mau. Bukan tatapan memohon untuk membuatnya menerima Marsha.
“itu sama aja gue ngasih dia harapan kosong. Sampe kapan si
ndai lo harus jadi perantara perasaan Marsha ke gue… Cindai cinta itu murni, dan gak selamanya cinta bisa kita bagi dengan siapa pun. Terkadang cinta itu tercipta hanya untuk satu orang”
“gue tau. Tapi gue cewe
Gas, apa yang Marha rasain bisa gue rasain dan betapa hancurnya dia jika harapannya selama ini sia-sia”
‘andai lo juga tau apa yang gue rasain’
Bagas membatin sambil menatap gadis didepannya nanar. Mengapa sulit untuknya bilang suka dan sayang tapi itu bagus. Artinya cintanya selama ini benar-benar tulus, hingga sulit untuk dia ungkapkan dan berujung pada hal yang bimbang
“pertama dia curhat lewat sms ke gue, gue bisa tau kalo dia bener-bener tulus
Gas. Perasaannya terlalu lembut”

Bagas ingat. Semua ini berawal dari pertemuan gak dingaja itu. Cindai dengan Marsha. mereka memang gak saling kenal tapi Bagas sangat mengenal Marsha karena papanya yang memang bersahabat dengan orang tua cewe itu. sedangkan Cindai, dia sudah berteman dengan Bagas sejak SMA Bagas menyesali dunia ini yang terlalu sempit hingga kedua cewe itu bisa berteman. semua berawal dari event di kampus. Cindai yang memang panitia acara itu terpaksa harus bekerja sama dengan Marsha. kordinator acara yang sama. Mereka saling cerita hingga bisa berteman seperti sekarang. Dan burukya Marsha cerita kalau selama ini dia menyukai Bagas. Kalau boleh jujur Bagas tau itu sejak lama. Marsha yang mengungkapkannya sendiri tapi hatinya memang bukan untuk cewe itu. hatinya hanya untuk satu orang. Cewe yang sejak lama dia perhatikan tapi sayang sangat sulit untuknya menyadari akan perasaan Bagas.
Bagas ko lo jadi cowo pelamun si. dari tadi gue tuh ngomong”
“eh sorry.
Ndai udahlah mood gue lagi ke situ. Meningan sekarang kita ke kantin. Gue beliin lo minum biar lo berenti ngomong soal Marsha
“tapi”
“cukup
Cindai Ndai andai lo tau kalo gue cape… apa yang selama ini lo bilang bener kok. Kalo gue cowo aneh yang gak bisa nerima cewe setulus dan secantik Marsha tapi please semua orang punya persepsi berbeda. Hati gue bukan buat dia… “ entah mendapat keberanian dari mana  Bagas berhasil mengungkapkan kegalauan dalam hatinya. Walau gak semua
“iya gue ngerti. Dan semuanya emang ada ditangan lo. Gue Cuma perantara aja. gue gak mau ada cewe yang hancur Cuma gara-gara cinta” suara
Cindai berubah lirih. Membuat Bagas menatapnya dalam. Ada sebersit sesalnya, mengapa ia bisa membuat Cindai seperti itu. tapi Bagas juga berharap Cindai tau perasaannya.
“gue ngerti tapi lo juga harus ngerti kalo cinta gak bisa dipaksain. Dan yang namanya patah hati pasti ada”
“iya. sorry ya kalo selama ini gue gak ngerti lo” ungkap
Cindai dengan seulas senyum
“its oke”

                                                                        ***

Untuk berapa kalinya
Bagas bertingkah autis di kamar. Menulis nama Cindai pada selembar kertas, dan tentunya memutar lagu cinta dalam hati yang sudah sangat dia hafal. huh… desahan napas terdengar berat dalam dirinya. Jujur ini sangat membingungkan. Terjebak dalam 2 pilihan yang sudah ada jawabannya, tapi sayang jawaban itu sangat salah untuk saat ini “if you know that I will always love you. although you would not know it” tulisan itu terpampang jelas di kertas yang sudah penuh dengan nama CINDAIBagas merasa dirinya seperti autis yang menunggu cinta. Kenapa si dia harus terlibat dalam hal itu? kenapa dia tidak bisa mencintai satu wanita dengan mudah. kenapa semuanya terasa begitu sulit? entahlah pertanyaan itu. Bagas membirkan pertanyaan itu melayang dalam otaknya tanpa bisa terjawab.
“den
Bagas
“ehm iya bi” dia membalikkan badannya kearah pembantu yang berada diambang pintu
“ada non
Marsha dibawah”
“oh iya nanti saya kebawah” dengan malas
Bagas bangun dari tempat tidur. Kedatangan Marsha saat ini bukan yang dadakan, cewe itu sudah menefonnya beberapa menit yang lalu.
“ada apa s
haGabriel tersenyum tipis dan duduk berhadapan dengan cewe itu
“aku mau nganterin kamu brownies. Aku tau banget kamu suka brownies”
Marsha menyodorkan sekotak kue lezat itu. cukup lama Bagas hanya memandangnya. Dalam bayangnya Bagas berharap cewe yang memberikan kue ini adalah Cindai.
“hm thanks ya
Sha. Sebenernya lo gak usah repot-repot”
“iya gak papa kok. Aku kesini usulan dari
Cindai. katanya papah mamah kamu lagi gak ada dirumah jadi siapa tau aku bisa nemenin kamu”
Okey untuk berapa kalinya
Bagas harus mengingat nama itu lagi. Cindai andai elo yang ada disini mungkin gue akan ceria, gak BT kaya gini. Kenapa harus Marsha… dan bodohnya kenapa elo yang nyuruh dia dateng kesini. Ungkap Bagas dalam hati
Cindai baik ya… aku seneng bisa temenan sama dia. Anaknya asik,seru,gokil dan satu lagi. Dia pengertian banget. Aku berasa punya kakak”
“iya.
Cindai emang baik”
“kamu beruntung
Gas, udah temenan sama dia sejak lama. Aku aja yang baru beberapa minggu udah seneng banget”
Menanggapi ucapan
Marsha. Bagas hanya tersenyum simpul. Baginya ucapan Marsha benar 1000 persen. Dia memang beruntung kenal Cindai “sha, lo sering curhat bareng kan sama Cindai. Cindai sering curhat sama lo tentang apa?”
Cindai si jarang lebih sering aku. Tapi kalo curhat dia lebih sering mengenai hobbynya dan masalahnya dikampus. Kaya dosen atau pelajaran”
“kalo tentang cinta?” tanya
Bagas ragu, dia gak mau salah mengucapkan pertanyaan itu
“hmhm hapir gak pernah si?tapi aku tau
Cindai lagi suka sama cowo?”
“SIAPA?”
Bagas seperti mendapat duren jatoh diatas kepalanya. Cindai suka sama cowo?? Jujur sejak lama dia berteman dengan gadis itu, dia gak pernah tau kalo Cindai suka sama cowo, atau emang Cindai gak pernah nunjukinnya?
“kok kamu kaget gitu si?”
“hmhm abis aku jarang aja denger
Cindai lagi naksir cowo”
“kirain kamu… hehe”
“kirain apa s
ha?”
“kamu cemburu kalo
Cindai punya cowo”
Glekkk… ucapan seperti menampar
Bagas. Jelas! Bagas akan sangat cemburu kalo memang cowo itu bukan dirinya
“eh gak mungkin lah. Gue kan Cuma temennya. Sh
a lo tau gak siapa cowo itu?”
“aku gak tau tapi yang pasti dia deket sama
Cindai dan mungkin sama kamu sendiri”
“oo..” gabriel membentuk huruf O dimulutnya. Otaknya seperti berputar. Mencari tau siapa cowo yang dimaksud
Marsha. ‘siapa yang Cindai suka?’ pertanyaan itu bergabung jadi satu dalam otaknya
Gas kuenya gak dimakan? By the way kayaknya aku gak bisa lama. Mama udah sms nih. Udah malem juga” Marsha bangkit dari duduknya
“hm iya. thanks ya sh
a kuenya”
“oke”
Sepeninggal
Marsha. Bagas merebahkan tubuhnya di sofa. pikirannya masih berkutat pada pertanyaan tadi. Siapa cowo yang berhasil meluluhkan hati Cindai? ahh Bagas merasa malam ini dia gak akan tidur nyenyak.


****

Siapakah sebenernya cowok yang disukai Cindai? Cowok yang mungkin bisa membuat Bagas benar-benar kehilangan Cindai? Tungguin part selanjutnya ya =D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar