Karya : Dyas Aliffauzan
Panas matahari pagi itu
disambut dengan kantung mata hitam. Bagas baru saja mandi. Tapi
sayang kelopak matanya masih saja bengkak karena kurang tidur. Pagi ini Bagas
harus pergi. Suatu hal malas di hari minggu cerah apalagi dengan keadaannya
seperti ini.
Setelah dirasa rapi, Bagas menuju mobilnya. Dia menarik napas kuat.
Hari ini dia akan bertemu banyak orang, dan salah satunya adalah Cindai. tapi
dengan kondisinya seperti ini Bagas merasa ingin terus
dirumah. Memecahkan pertanyaan yang membuatnya seperti orang aneh “oke. Gue
bisa bilang kemaren gue begadang nonton film” Bagas menstarter mobilnya,
perlahan melajukannya menunju PIM (pondok indah mall)
Kurang lebih 20 menit dia sudah ada di tempat itu. Bagas berjalan santai menuju
j-coo. Tempat dia janjian dengan beberapa temannya untuk membicarakan tugas
terbaru dari dosen.
“hei. Baru dateng lo” Josia menyambutnya. Bagas
hanya tersenyum tipis,. Hari ini moodnya terlalu jelek
“sorry ya tadi gue bangun agak kesiangan”
“yoi gak papa kali kita juga belum mulai. Masih nunggu Rafli” sahut Angel
membuat Bagas mengangguk pelan
“Gas
ko mata lo item gitu si. kurang tidur?” tanya Cindai yang memang duduk
berhadapan dengan Bagas
“hmhm iya. semalem gue nonton film sampe larut” akhirnya Bagas l memakai jawaban itu.
menurutnya itu jawaban bohong terbaik
“oo… kirain ngapain”
“alah… paling ngeronda bukannya nonton film” sahut Josia enteng.
“yee emang gue kaya elo jos tukang ronda alias
hansip”
“kata siapa gue hansip,. Gue penjaga keamanan”
“udah jayus banget si kalian berdua” Angel menengahi. Bercandaan
cowo-cowo emang aneh, keliatan jayus abis
“eh Rafli dateng tuh” semua menoleh keraah Rafli. Cowo itu sekarang
duduk disebelah Cindai. wajahnya terlihat seperti menyesal “sorry ya gue telat.
Nyokap gue minta nganterin ke salon dulu”
“its oke yo. Kita juga belum mulai” ujar Cindai melirik Rafli
disebelahnya. Bagas yang memang saat itu berada didepan keduanya jelas
menangkap atmosfer baru dalam diri Cindai. entah apa itu… tapi
yang pasti Cindai berubah canggung. Bagas kenal Cindai
lama dan dia tau cewe itu berubah tegang seperti berada disebelah dosen killer
Setelah makan kecil kelima mahasiswa itu melanjutkan tujuan mereka ke sini.
Mengerjakan tugas!. Cukup sering perdebatan terjadi. Terutama masalah konsep
dan isi. Semuanya punya pendapat masing-masing konsentrasi Bagas
seperti terpecah saat itu. dia benar-benar menangkap hal yang ganjal. Cindai
berubah!! Biasanya dia kritis dalam menyampaikan pendapat tapi
sekarang dia seperti menuruti pendapat Rafli!. Bukan seperti Cindai
yang biasanya. entah gimana Bagas mempunyai pendapat Cindai
menyukai cowo itu! tapi apa mungkin? Sedangkan Cindai
pun jarang ngobrol atau main dengan Rafli.
***
“Ndai gue mau tanya sesuatu sama lo?” Bagas membuka pembicaraan.
Saat ini dirinya dan Cindai sudah selesai dari pekerjaan tadi.
Mereka berdua asik jalan di mall sambil menikmati sebuah ice cream sementara
yang lain sudah pulang beberapa waktu lalu
“apa Gas?”
“gue ngerasa tadi lo berubah”
“hah? Berubah gimana?” Cindai seakan tak mengerti maksud Bagas
“biasanya lo paling rajin kalo ngasih pendapat tapi tadi ko lo kalem aja
ya dan lebih nurut sama pendapatnya Rafli”
Tibatiba Cindai berhenti. Tenggorakannya serasa tersangkut “ko lo bisa
punya pendapat gitu gas”
“tuh kan lo jadi kaget gitu. Ya gue ngerasa aja. ada atmosfer yang beda kalo lo
deket sama Rafli”
“siapa yang kaget… lagian beda gimana kayaknya biasa aja” Cindai kembali berjalan. Dia
berusaha menyusun jawaban jika nanti Bagas bertanya seperti tadi
“gak usah boong gitu kali… gue kenal lo udah lumayan lama dan gue tau
kalo lo tadi salting
dan canggung. Apa lo suka sama Rafli?”
UHUKKK…Cindai tersedak hebat. Dia gak menyangka Bagas akan langsung
menanyakan pertanyaan itu
“lo gak papa kan Ndai?”
“gak papa. Lagian pertanyaan lo aneh” elak Cindai berusaha bersikap biasa
“tapi bener kan?” tanya Bagas takut. Please jawab
enggak Ndai atau lo bakal bikin hati gue hancur
“hmhm gue…. Kalo boleh jujur iya”
Sebuah jawaban yang membuat Bagas lemas, jawaban menampar
dan sangat menyakitkan. “kok bisa?” suaranya pelan dan nyaris tak terdengar
“gue sendiri gak tau Gas. tiba-tiba perasaan itu
dateng aja”
“oke… terus sekarang?”
“gue gak tau. Yah biar ajalah Rafli tau dengan sendirinya”
Bagas mengangguk lemah. Jawaban Cindai sudah cukup menjelaskan
semua. Entah gimana hatinya saat ini. Hancur, terluka atau sakit? Bagas
rasa semuanya ada. Patah hati!!
***
“Cindai, gue boleh tanya gak?” ujar Bagas sambil menyusun
buku-bukunya. Saat itu mereka sedang ada di perpustakaan. Mencari tugas kuliah
seperti biasa
Cindai menoleh, kemudian tersenyum kecil “apa gas.
Tanya aja”
Bagas diam sejenak. Hatinya sangat bimbang hingga dia gak tau apa
yang harus dia lakukan. Kejadian tempo hari membuat Bagas sadar kalau perasaannya
selama ini sia-sia. Perasaan bodoh yang dia simpan rapat-rapat. Haruskah dia
mengakuinya sekarang? Tapi itu akan sama aja memperburuk keadaan
“Ndai, gimana perasaan lo sama Raflisekarang” akhirnya
pertanyaan itu terlontar dalam satu tarikan nafas. Dan jujur ada perih yang
terasa
Cindai berhanti dari kegiatannya, dia duduk di bangku sambil
menopang dagu. Bagas gak ngerti maksud perubahan sikap itu
“Gas,
aku bingung. Apa perasaan ini salah karena aku ngerasa ini Cuma buang-buang
waktu. Rafli gak akan pernah nerima aku lebih dari temen karena memang
diantara kita gak ada yang special tapi kalo boleh jujur aku masih berharap”
“aku ngerti yang kamu rasain Ndai. Dan aku rasa gak ada
salahnya kamu punya perasaan itu. setiap orang berhak mencintai dan dicintai”
“tapi kalo cinta itu gak mungkin terjadi?” Cindai membalikkan badannya,
menghadap Bagas yang berdiri dibelakang
“kita harus bisa nerima itu, karena itu yang buat bahagia orang yang kita
sayang. Mungkin lo tau kata-kata cinta gak harus memiliki. Itu bukan hanya
sekedar kata-kata tapi punya makna yang dalem. Gak selamanya kita bisa milikin
orang yang kita sayang dan itu bukan yang terburuk tapi justru yang terbaik.
Karena kebahagiaan dia nantinya juga akan membuat kita tersenyum kan”
“walau senyum itu pahit”
Bagas mengangguk. itu yang dia rasakan sekarang. Tersenyum dalam
kepahitan. tapi buat Bagas itu gak masalah asalkan senyum Cindai
gak hilang. Itu udah CUKUP
“elo mau gue bantuin deket sama Difa?” tanya Bagas.
Rasa sakit itu muncul begitu pekat
“gak usah Gas.
Biar waktu aja yang jawab semua”
“tapi Ndai, apa itu gak akan buat hati lo sakit?”
“gak. Gak sama sekali” jawab Cindai mantap. Bagas
memandang Cindai teduh. Andai dia bisa melakukan apa yang Cindai
lakukan. Tapi rasa sayangnya begitu besar hingga sulit untuk gak merasakan
sakit itu
“Gas,
gimana sama Marsha?”
“gak gimana-gimana Ndai”
“Gas
boleh gak elo nurutin satu permintaan gue, satu aja. dan gue janji gue akan
nurutin apa mau lo”
“ko lo gitu si ngomongnya. Emang mau minta apa?”
“terima Marsha”
BRAKK buku ditangan gabriel jatuh. Dia menatap Cindai nanar.
“sorry Gas
tapi gue mohon. Sekali ini aja”
“apa itu buat lo bahagia Ndai?”
“mungkin. Karena buat gue, bisa ngeliat orang lain bahagia dengan orang yang
dia sayang itu bahagia gue yang gak ternilai”
Bagas membuang napasnya. Dulu Bagas janji pada dirinya,
bahwa dia akan melakukan apa aja asal Cindai bisa bahagia tapi bukan
ini!! Tuhan kenapa semua begitu rumit. Apa harus aku mengorbakan perasaan ini.
Apa harus aku terluka asal orang aku sayang tersenyum?
“gue pikirin nanti Ndai”
“pikirin
ya Gas.
Oh ya gue
duluan ya, bay”
Sepeninggal gadis itu, Bagas duduk ditempat cewe tadi. Dia
memikirkannya. Tapi gak ada satu pun jawaban. Bagas menyobek kertas kosong
di bagian belakang buku. Kemudian mengambl pulpen diatas meja
Cindai…….. entah gimana gue bisa nulis ini. Ndai
andai ada kesempatan buat muter waktu, gue aka puter waktu itu. gue akan
melakukan 2 hal. Gak pernah ketemu lo sama sekali atau pergi saat gue sadar
akan perasaan itu tapi gue terlambat, perasaan itu datang tanpa bisa gue cegah.
Gue mengangumi lo lebih dari yang lo tau dan lebih dari orang lain. Mungkin gue
cowo pengecut Ndai yang gak bisa
ngungkapin perasaannya. Karena gue sadar rasa ini terlalu besar, terlalu
murni dan terlalu indah. Buat gue, elo beda dari gadis lain. Elo punya tempat
special dan hati ini!! Gue rasa Cuma tercipta buat lo. elo cinta pertama gue
dan gue harap juga cinta terakhir gue. Walaupun gue sadar itu gak mungkin. Gue
tau elo emang gak bisa gue milikin lebih dari temen tapi lo juga harus tau Ndai
itu udah cukup buat gue. gue pengen lo tau kalau selama ini apa yang gue rasa
itu jujur, gue tersenyum dalam kepahitan dan gue nutup semua celah dalam hati
gue, BUAT ELO NDAI. Tapi mungkin ini Cuma
cinta dalam hati, cinta yang gak akan pernah berujung. tapi asal lo tau.
Mencintai lo dalam hati itu udah cukup buat gue bahagia. You are always
beautiful for me and you always wonder this until whenever.
Bagas memandang kertas itu. kertas yang menurutnya lebih mirip
surat. Ahh tapi surat itu gak akan sampai pada sivia. dan Bagas gak akan mau kalau
surat itu ada ditangan Cindai. biarlah surat ini ada ditangannya. Dan
entah sampai kapan
“woy bro” seseorang menepuk pundak Bagas. Membuatnya kembali
sadar dari hal indah tadi. Mengangumi Cindai!!
“eh yo. Ada apa?”
Rafli . cowo itu duduk disamping Bagas “gak papa. Nyapa aja.
tumben main ke perpus”
“maksud lo? Ya gak papa kan… toh ini punya kampus jadi gue berhak main kesini
kan gue bayar kuliahnya”Bagas nyengir
“iyalah yel. Eh tau gak lo buku yang Josia punya? Katanya ada juga
ya di perpus?”
“iya tau kok. Emang ada. Ketinggalan lo”
“hehe gue kan jarang main di perpus. Cariin dong”
“yeh… dasar lo. Yaudah bentar” Bagas beranjak pada deretan
rak buku. Sementara Rafli hanya memperhatikan Bagas
yang meneliti setiap buku besar didepannya.
“loh apaan ni” Rafli memungut secarcik kertas yang tanpas sengaja jatuh saat
tangannya menyenggol kertas itu. Rafli menimbangnya. Ada rasa
ingin tau dalam dirinya untuk membaca kertas yang dilipat asal itu. tapi suara Bagasl
membuat niat itu diurungkan
“Rafli sini lo. Yang ini bukan bukunya?” gumam Bagas tanpa
melihat Rafli. Pandangannya masih meneliti deretan buku didepannya
“yoi yang ini. Thanks ya. Eh… cabut yuk. Gue males lama-lama disini haha” Rafli
hanya nyngir yang hanya dicibir Bagas dalam hati “dasar.
Yaudah yok” Bagas mengambil tasnya tanpa ingat surat rahasia yang baru ia
tulis
“yo, ada acara gak lo malem ini?” tanya Bagas saat menuruni anak
tangga
“gak ada. Kenapa? Mau ngajak gue kencan?” sahut Difa asal
Bagas memajukan mulutnya. Seenaknya aja Rafli bilang gitu. Dia masih
normal kali! “najis deh.. gak. ada yang mau gue omongin sama lo. Penting
banget. Jam 7 di café loli”
“oo kirain lo ada rasa sama gue. Hahaha” Rafli masih becanda. Bagas
mendengus. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa Cindai bisa suka sama cowo
macem Rafli. Yang slengean dan asal kalo ngomong
“Rafli….. gila lo ya. Jadinya gimana? Bisa gak?”
“bisa-bisa. Anytime for you”
Ingin rasanya Bagas lari dari situ. Dia takut kalo Rafli benar-benar ada
kelainan….
>>>>>>>>>>>
Bagas duduk diatas kap mobilnya. Sesekali Bagas memandang arloji yang udah
nunjukin jam 7 lewat 15 itu. Rafli benar-benar ngaret.
Padahal cowo itu kesini naik motor tapi masih aja telat kira-kira jam 7 lewat
20 motor ninja Rafli terpakir dihalaman café loli.. Bagas sengaja gak masuk
duluan, mencegah kalo Rafli ngaret dan dia gak mau kalo Cuma
bisa duduk manis di dalem. Ternyata dugaannya gak salah kan?? setelah omelan
kecil, Bagas menarik Rafli masuk ke dalam café
itu. suasana didalam cukup sepi. Hanya ada 5 orang pengunjung disana. Maklum,
ini bukan malam minggu !!
Setelah memesan makanan, Bagas memulai obrolannya. Dia
menarik napas dalam “Raf… gue mau nanya sama lo. Seandainya ada cewe
yang suka sama lo. Tapi dia gak berani bilang. Lo mau ngelakuin apa?”
“apa ya. Ya gue harus tau dulu cewe itu siapa. Kalo emang gue juga suka ya gue
terima”
“kalo cewe itu Cindai?” pertanyaan itu meluncur cepat dalam satu tarikan napas
“hah. Cindai? Rafli mebelalakan matanya
“iya lo tau kan”
Gak ada jawaban dari Rafli tapi sedetik kemudian “HAHAHAHAHA”
“ko lo ketewa” Bagas memandangnya heran
“ya abis lo lucu. Ko Cindai”
“gue serius Raf.
Dia suka sama lo. Gue sendiri gak tau apa yang bisa nyebabin dia suka”
Rafli kembali diam… cukup lama hingga makanan pesanan mereka
datang “sekarang gue deh yang balik nanya. Apa kepentingan lo si sama Cindai
sampe bela-belain ngajak gue ketemuan Cuma buat nanya gini?”
Pertanyaan Rafli sangat menampar. Satu alasan!! DIA INGIN MEMBUAT CINDAI
BAHAGIA
“kok lo gak bisa jawab”
“hmhm” Bagas hanya mendesah. Entah apa yang harus dia jawab
“udah lo gak usah sembunyi dalam topeng lo itu. jujur Gas. Karena kejujuran lebih
berharga daripada memendam”Rafli merogoh saku celananya,
mengambil lipatan kertas yang sudah lecek “mungkin lo tau apa ini”
Mata Bagas membulat… dia menepuk dahinya. Menyesali kebodohan itu.
kenapa dia bisa lupa akan suratnya?? “lo dapet itu dari mana?”
“gak usah pura-pura gak tau. Gas gue kira lo itu cowok
gentle ya. Cowo yang idaman. Tapi apa…. buat ngungkapin perasaan lo sendiri aja
gak bisa” cibir Rafli. Bagas gak berkomentar “gue ngerti. Lo punya
perasaan sama Cindai udah lama tapi karena suatu hal yang gue gak tau apa dan
pasti hal itu gak penting, lo jadi mundur. Lo lebih memilih menyimpan cinta lo
yang entah sampai kapan. Membiarkan hati lo sakit dan menebar senyum sebagai
topeng”
“lo gak ngerti Raf.
Mungkin mudah buat bilang cinta tapi gak mudah kalo lo ada di posisi gue”
“posisi lo emang kaya apa? lo ada di jurang atau ada di hutan lebat sampe
linglung dan bimbang gak karuan”
“lo bener… gue emang ada di jurang. Jurang yang dalam. Gue harus bisa bebas
dari jurang itu tapi hanya ada 2 pilihan tapi sayang keduanya gak akan bawa gue
pulang. Keduanya Cuma akan buat gue sakit. karena 2 pilihan itu emang salah”
“jadi cinta lo buat 2 hati” Rafli menyimpulkan maksud
perumpamaan Bagas
“you know? This is worse”
Akhirnya Bagas meceritakan semuanya. Semua yang terjadi. Antara dirinya, Cindai
dan Marsha. tentang cintanya kepada gadis yang dia suka begitu lama
namun tak ada keberanian untuk dia mengungkapkan. Tapi ketika ada setitik
nyali, itu semua surut saat Marsha hadir diantara mereka. Cindai
menganggap Marsha begitu pantas untuknya,hingga Bagas menyerah dengan situasi
itu
Rafli hanya mengangguk mendengar cerita Bagas.
menurutnya ini cukup rumit tapi pasti ada jalan keluarnya. Hanya aja Cuma Bagas
yang tau. Rafli merasa Bagas harus milih salah satu.
Atau dia gak pilih dua-duanya
“apa menurut lo gue ngehindar aja ya dari dua-duanya?” tanya Bagas
mengakhiri ceritanya.
“itu teserah lo tapi menurut gue semua harus ada keputusannya. Lo harus milih
satu atau gak sama sekali” Rafli menegaskan. Dia memberi
senyum yakin pada Bagas yang hanya bisa pasrah dengan apa yang
terjadi selanjutnya
………………………………..
Langit pekat bertambur bintang menemani kebimbangan di hati itu. rasanya buat
apa penantian selama itu kalau ujungnya hanya rasa ragu yang ada, buat apa
selama ini dia menuggu kalau akhirnya berakhir tanpa hasil. Tapi toh omongan Rafli
ada benarnya. Semua harus diputuskan. gabriel harus memilih. Mengorbankan satu
cewe entah Marsha atau Cindai. tapi sangat sulit
untuk memilihnya. Atau yang terakhir pergi dari kehidupan 2 cewe itu dan gak
berurusan dengan mereka sama sekali.
“mungkin gue butuh waktu buat tenang, gue harus menghilang sebentar dari ini
semua. Sekedar buat cari jalan yang terbaik” ujar Bagas dengan tarikan napas
panjang. Dia memejamkan matanya. Menikmati indahnya malam dengan bintang
yang mungkin saksi dari kegalauannya saat ini
Waktu yang berjalan membuat semua berubah. Kisah itu lambat laun berganti. Rasa
kehilangan mejalar bersama angin yang bertiup. Entah sampai kapan kisah
itu akan terus bergulir. Kisah yang endingnya belum diketahui. Kisah yang jalan
ceritanya hanya waktu yang tau. tapi kisah itu yang membuat Cindai
sadar akan hal yang baru dalam hatinya. Mungkin dia merasakannya. Merasakan
kisah yang memang sengaja di buat. Tapi Cindai gak tau apa inti
kisahnya. Yang dia tau sekarang seperti kehilangan sesuatu walapun dia rasa itu
tak terlalu besar apapun alasannya. Cindai merasa kehilangan!! Bagas.
Sosok itu tak lagi dia temui. Bagas seperti hilang. Di
kampus mereka hanya sekali dua kali bertatap muka, cowo itu pun tak menyapa
saat bertemu, hanya seulas senyum yang mewakili, bahkan dia seperti sengaja
menghilang. Setiap bertemu Bagas berusaha pergi dengan
berbagai alasan. Alasan yang masuk akal namun tak jelas untuk Cindai.
‘gue ada tugas’ ‘gue harus jemput adek gue’ ‘senat lagi banyak urusan’ ‘gue
ngantuk butuh istirahat’ ‘nyokap sakit’ ‘gue males yang lain aja’ dan berbagai
alasan lainnya. Cindai mendesah. Pandangannya menyapu seluruh halaman kampus.
Honda jazz hitam itu pun tak lagi terlihat di parkiran. Bagas benar-benar berubah.
Tapi apa yang membuatnya seperti itu? pertanyaan itu terus melintas di otak Cindai
selama 5 hari ini.
“Cindaiii…….” Rafli membanting tasnya di
atas meja panjang di bawah pohon. Tempat cewe itu duduk dan melamun. Cindai
meliriknya sebentar kemudian kembali melamun. Sekarang perasaannya hilang
begitu saja. Perasaannya terhadap Rafli! Yah entah gimana
caranya tapi itu terjadi begitu aja. mungkin Rafli emang bukan yang
terbaik dan rasa sukanya hanya sesaat
“Ndai ko diem si. lagi pms ya?” tanya Rafli enteng.
“gak” Cindai menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin becanda apalagi
becandaan garing seperti tadi
“kenapa? Kangen sama someone?”
“gak tau”
“aduhh dasar orang galau. Susah diajak ngobrol”
“siapa yang galau. Enggak”
“masa si? tau gak tanda-tanda orang galau. Dia suka ngelamun, dan mikirin orang
yang menurut dia berarti. Lo miirin Bagas kan?”
Cindai menoleh. Dia tersentak. Kenapa cowo itu bisa tau? apa
begitu kelihatan?
“gak usah kaget. gue tau kok bahkan gue tau lebih dari lo”
“maksudnya Raf?”
Cindai mengerutkan dahinya.
“mungkin saatnya lo tau ini… gue juga cape kalo harus nyembunyiinya apalagi ngeliat
lo uring-uringan gini ndai” Rafli membuka tasnya.
Mengambil sebuah kertas yang sudah amat lecek. Lebih lecek saat surat itu dia
kasih ke Bagas tempo hari
“lo baca isinya dan lo akan tau yang sebenernya. Oh ya lo tau Marsha
kan?”
Cindai mengangguk “kenapa sama Marsha?”
“dia udah ngerti semuanya dan dia berharap yang terbaik” Rafli bangkit dari duduknya.
Meninggalkan Cindai dengan segala rasa bingungnya setelah memandang sepersekian
menit. Cindai menyerah. Dia memilih membukanya
Entah ribuan batu itu datang dari mana. Tapi yang pasti Cindai merasa sakit. apa yang
telah ia perbuat? Apa yang telah ia lakukan pada orang setulus Bagas?
Dan kenapa dia bisa melakukan itu? Cindai merasa sangat bodoh. Dia
memaki dirinya sendiri. Ya Tuhan gue pasti jahat banget. Kenapa gue bisa
nyakitin Bagas kenapa dia gak pernah tau itu semua. Dan kenapa dia malah
membuat Bagas menerima Marsha? Cindai menelungkupkan
wajahnya. Ingin dia menangis. Kenapa dia membiarkan orang yang benar-benar
tulus itu pergi? Apa dia begitu egois?
“nangis sepuasnya kalo emang itu membuat semua lebih baik”
Cindai mendongak,mencari asal suara itu “Marsha” suaranya parau,
mungkin kerana dia terlalu ingin menahan tangisnya
“aku udah tau semua ndai”
“Marsha aku minta maaf. Aku sendiri baru tau sekarang”
“harusnya aku yang minta maaf. Aku sadar cinta itu gak bisa dipaksain. Hati
Bagas untuk kamu. Dan itu gak pernah berubah walaupun ada seribu aku”
“aku tau sha
dan aku merasa jahat,egois,bodoh” ujar Cindai. suaranya serak dan ada
sedikit air mata dikelopak matanya
“jangan pernah salahin diri sendiri ndai karena itu sama aja memperburuk
keadaan. Kalo emang kamu nganggep Bagas berarti dan kamu
kehilangan dia. Kejar dia” Marsha tersenyum. Senyum penuh
arti. Cindai tau dia mengucapkan itu tulus
“apa kamu gak akan cemburu?”
Marsha tertawa renyah “apapun rasa itu, cemburu atau apa. itu
bukan hak aku. Yah emang awalnya aku kesel,marah,sedih,kecewa tapi kemudian aku
tau itu semua gak ada artinya. Jadi buat apa aku mikirin lebih baik aku coba
cari lembaran baru. Itu lebih bagus kan” Marsha menepuk pundak Cindai.
ucapannya seperti nasihat untuk Cindai saat ini. Mungkin benar,
rasa bersalahnya sekarang gak ada artinya, itu semua Cuma kerikil tajam yang
gak akan ngebuat kisah ini selesai
“tapi aku udah terlambat kan. Bagas mungkin udah membuang
perasaannya jauh-jauh dan aku juga ngerasa bersalah banget sama dia sha. Aku
udah nyuruh dia ngelakuin hal yang sama sekali gak dia mau. Mencintai kamu”
“gak ada kata terlambat ndai, kalo emang Bagas tulus
sama kamu, dia pasti akan nunggu kamu dan percaya deh. Apa yang dia lakuin
sekarang, seperti menghindar semua demi kebaikan kita. Aku, kamu dan Bagas
sendiri” Marsha tersenyum penuh arti. Gurat wajahnya benar-benar jujur.
Jadi dia mengucapkan itu bukan semata-mata menghibur tapi Marsha
benar-benar
sudah menghapus perasaannya kepada Bagas.
“kok kamu udah tau duluan si?”
“aku tau ini dari Rafli dan Bagas. Aku gak sengaja denger
perbincangan mereka beberapa hari yang lalu saat mereka makan di kantin. Jujur
aku shock tapi setelah mendapat penjelasan aku ngerti semua. Aku jadi orang
ketiga” Marsha tertawa kecil. Cindai merasa kehangatan dari
tawanya “tapi itu bukan salah aku kan? Aku sendiri gak tau yang terjadi
sebenernya. Makanya sekarang aku ingin memperbaiki semua. Yah mungkin cinta aku
bukan Bagas tapi seseorang yang lebih baik”
“kamu hebat sha.
Aku kagum sama ketegaran kamu”
“itu bukan ketegaran tapi memang kewajiban hehe. Sekarang kamu harus selesaiin
semuanya” kata Marsha yakin.
Cindai menyetujui ucapan itu. dia harus menyelesaikan proses ini!
“aku akan selesaiin kisah ini sha”
“iya HARUS!!!”
******
Penyesalan hanya ada diakhir tapi penyesalan bukan akhir dari segalanya. Justru
penyesalan adalah pembelajaran. Cindai merasakannya. Dia sadar
semua itu udah terjadi. Dan sekarang dia harus memperbaikinya beberapa jam lalu
dia sudah mengirim pesan yang isinya menyuruh Bagas datang kesini. Ke bukit
kecil di dalam kota. Tapi mungkin Bagas gak akan datang. karena
ini sudah lewat 1 jam dari pesannya
“aku akan disini entah sampai kapan” Cindai memejamkan matanya.
Merasakan angin yang menerpa wajah dan helai-helai rambutnya. Hatinya perih
tapi mungkin gak ada apa-apannya jika dibanding Bagas.
“Bawa perasaan ini terbang dan hilang bersama angin, bawa pergi ke
langit,terbang ke samudera hindia,pasifik,tenggelem dia laut mengalir ke kutub,
membeku dan akhirnya mati tanpa bisa mencair” Cindai terus memejamkan
matanya. Rambutnya terbang bersama angin. Tapi ngga bersama perasaannya
“jangan hilangin perasaan itu ndai” sesaat suara itu
terdengar lembut. Tapi Cindai bergeming dia tetap memejamkan matanya.
Buatnya suara itu hanya halusinansi karena sampai kapan pun suara itu gak akan
datang untuknya
“aku disini. Buka mata kamu. Jangan pernah bilang kalo kamu akan membuang
perasaan itu” tangan kekar itu Cindai rasa begitu nyata.
Beberapa detik dia hanya merasakannya sampai kini badannya diputar beberapa
derajat “buka mata lo” perlahan Cindai membuka matanya.
Merasakan kehangatan yang lain, kehangatan yang nyaman
“Bagas” orang itu berdiri tegak didepannya. Wajahnya tersenyum.
Senyuman yang beberapa minggu ini menghilang
“sorry gue telat”
“gue kira lo gak mau dateng” ujar Cindai lirih. Wajahnya kini
berada dekat dengan wajah Bagas
“gue bukan gak mau dateng tapi gue takut. Cindai sorry ya selama
beberapa minggu ini gue ngehindar dari lo,ngejauh bahkan terkesan aneh.
Tapi itu bukan karena gue marah atau ada masalah tapi itu karena gue gak
mau bikin hati seseorang sakit dan buat semuanya tambah kacau. Gue tau elo udah
tau semuanya kan?”
“iya. dan elo udah buat gue jadi orang yang paling jahat” Cindai menatap mata bening Bagas.
Ada teduh dan rasa nyaman yang ia rasakan tapi kenapa ia baru sadar itu
sekarang? Kenapa ngga sejak dulu?
“gue Cuma takut ndai kalo gue terus berada dalam posisi itu justru gue yang
merasa jadi cowok paling jahat. Gue gak mau nyakitin siapa pun jadi gue mutusin
buat lari dari itu semua walaupun pada akhirnya gue sadar itu gak akan
nyelesaiin masalah” gumam Bagas, dia balas menatap Cindai.
“apapun alasannya gue lah orang yang salah dalam cerita ini gas. Gue
gak peka sama perasaan lo, gue terlalu egois dan selalu mentingin perasaan Marsha.
padahal gue gak tau perasaan lo ke dia kaya apa”
Bagas tersenyum kecut. Memang benar. Cindai salah. Salah kerana dia
ngga bertanya dulu apakah dia juga menyukai Marsha.
“Cindai,,, selama ini gue pake topeng. Topeng dari hati gue yang
kalut. Topeng dari diri yang pengecut. Tapi akhirnya gue harus buka topeng itu.
karena gue sendiri gak tahan. Gue mau semua orang tau apa yang ada di dalam
hati gue. Dan sekarang topeng itu terbuka tapi elo udah tau soal itu bahkan
sebelum gue berani ngelepas topengnya”
Cindai kembali mengernyit. Omongan Bagas susah untuk dicerna
“maksudnya?”
“iya. gue baru berani buka topeng itu beberapa jam yang lalu. Saat Rafli
dan Marsha nyamperin gue dan bilang kalo
topeng itu udah gak ada artinya lagi, kalau elo lagi nunggu gue disini dan kalo
gue gak nyamperin elo, gue akan kehilangan penantian gue untuk kedua
kalinya” Bagas menarik lembut tangan Cindai. “gue pengecut ya ndai?
Cuma bisa memendam cinta?” Bagas tersenyum sambil
mengerlingkan matanya
“iya elo pengecut!! Kenapa si elo gak jujur. Dan kenapa elo malah mau bantuin
gue deket sama Rafli?” sahut Cindai. senyumnya yang manis
kini kembali terlihat
“karena apa yang buat lo bahagia gue akan lakuin. Itu janji gue ndai”
Cindai merasakan hatinya mencelos. Tuhan… kenapa dia bisa
melewatkan ini?melewatkan cowo setulus Bagas.
“oh ya gimana sama Rafli?” Bagas kembali mengerling,
membuat Cindai melotot kearahnya “maksudnya??? Gue udah gak ada perasaan
apa-apa lagi sama dia. Ternyata itu Cuma perasaan sesaat. Oh ya elo tau gak
perasaan kehilangan gue lebih dari perasaan suka gue ke Rafli”
“loh kok gitu?”
“soalnya gue sadar gue gak bisa kehilangan lo” Cindai menjawabnya dengan nada
yang susah diartikan. Suaranya terkesan jail namun ketulusan juga terlihat dari
nada bicaranya
Bagas tersenyum. Mungkin memendam itu baik tapi yang gak baik
kalo harus mengorbankan orang yang kitas sayang. Dan sekarang dia telah
mendapatkan penantiannya. Cindai!!
“jadi bener ni udah gak suka lagi sama Rafli. Dia kan ganteng” Bagas
tersenyum jail
Cindai hanya manyun dan melepaskan genggaman Bagas “ih kamu ya. Bener deh
aku tuh udah gak suka lagi sama Rafli. Mungkin aku Cuma kagum
dan sekarang aku sadar satu hal kalo orang yang aku sayang ada didepan mata ku
sendiri dan bodohnya aku melewatkannya dulu” Cindai mengucapkannya sambil
melempar tatapannya kesegala arah, ia ngga berani kalo harus melihat mata Bagas
saat ini. Cindai takut penyesalannya semakin besar
“itu bagian dari proses ndai. Gak ada yang perlu
disesalin. Aku juga salah kok. Aku terlalu kalem sama perasaan sampai aku rela
nyakitin perasaan aku sendiri”
“oh ya masalah Marsha gimana? Apa dia…”
“aku rasa dia bisa ngerti. Dia dewasa dan bahkan dia yang maksa aku kesini” Bagas
memotong ucapan Cindai. perlahan Bagas maju dan kembali pada
posisi awalnya. Berhadapan dengan gadis itu
“would you be my girl friend?”
“ciyeeee… terima aja ndai” suara itu terdengar dari balik ilalang. 2
orang manusia dengan jailnya bersuil. Yap!! Mereka Rafli dan Marsha.
entah sejak kapan kedua orang itu berada disana
“loh kok?”
“sorry ya mereka emang ikut kesini tapi aku juga gak tau sampe ngintip” Bagas
gantian menatap Marsha dan rafli. Tatapan murka lebih tepatnya
“abis gue takut aja lo gak jadi nyatain cintanya makanya nyegah-nyegah
gue kesini hehe” rafli nyengir dan berjalan mendekat
“iya dan ternyata Bagas berhasil melakukan hal yang buatnya
sulit itu.suatu hal yang dulunya gak mungkin buat dia” timpal Marsha
dia kini berdiri disamping Cindai dan merangkulnya
“tapi elo berdua jadi ganggu tau”gumam Bagas setengah kesal. Rafli
hanya tertawa “oke deh gue gak mau ganggu. Sha dari pada jadi nyamuk
meningan kita ketempat lain. Mereka mah jadul kencan di bukit yang ada
ilalangnya gini. Gak gaul. Meningan kita ke café”
“oo jadi rafli ngajak marsha kencan. Ehem ada apa
ya?” Cindai berdeham pelan. Dia melemparkan senyum mengejek kepada Rafli.
Sementara Marsha hanya bisa mendelik “what? Gak lah ndai…”
“kalo iya juga gak papa?” timpal Bagas. Rafli Cuma bisa bergumam
pelan “ko jadi gue yang kena”
“eh eh tapi kalian berdua cocok loh. Kalian kan bagian dari kisah gue sama Cindai”
Bagas berpendapat yang langsung diangguki Cindai “yap betull!”
“tapi gak gini juga” tanpas sadar Rafli dan Marsha
mengucapkan kata yang sama. Mereka saling berpandangan dan jelas! Saat itu
wajah Marsha bersemu merah
“ahahahahahaha” Cindai dan Bagas tertawa lepas
Tawa itu terdengar bersama suara angin dan kicauan burung. Tawa dari mereka
yang merasakan indahnya bahagia, indahnya dari akhir cerita yang gak terduga.
Hidup memang misteri, semua sudah ada jalannya dari mulai prolog hingga
epilognya. Namun tetap aja yang menentukan alur itu hanya Tuhan dan waktu. tapi
bagaimanapun akhirnya toh semua punya kesan. Kesan yang tertinggal di halaman
terakhir. Bagas menutup kisahnya dengan berbagai makna. Makna akan
kejujuran dan cinta yang tulus. Dan satu yang terpenting. Makna dari sebuah
proses yang rumit ………………………………………………..
Cindai menatap note book didepannya tanpa berkedip. Entah apa yang
begitu menyedot perhatiannya. sekarang tepat seminggu sejak kejadian di bukit
itu. Cindai merasa hidupnya penuh warna. Yang paling simple dia PUNYA
PACAR BARU SEKARANG!!
“Cindai ngapain si?” Bagas duduk disebelahnya
sambil menyerahkan sekaleng fanta
“ehm lagi ngecek tugas gas”
“segitunya ndai. Oh ya ada kabar bagus loh” Bagas mengerling genit.
Berusaha menyedot perhatian Cindai
“hmhm apa?” tanyanya datar. Bagas manyun. Caranya gak
berhasil
“MARSHA SAMA RAFLI JADIAN”
“apa???” Cindai terperanjat. Dia menatap Bagas gak percaya “kok bisa?”
“itu yang namanya takdir. Semua gak pernah sama seperti apa yang kita mau. Yahh
mungin mereka terlibat cinta tak terduga. Seperti yang kita bilang. Mereka kan
bagian dari kisah kita jadi Tuhan adil dengan membuat kisah mereka sendiri
hehe”
“iya juga sih. Makin pinter aja sih kamuuu” Cindai mencubit hidung Bagas
hingga bersemu merah
“iya dong gue gitu haha”
“dasar”
“eh ndai dengerin gue deh ehem” Bagas berdeham kecil sejurus
kemudian menatap Cindai serius “you are the most beautiful woman today. You always
fill my heart with your smile. I'm happy to have you”
“hahaha iya deh aku juga”
Dan akhirnya kisah ini berakhir dengan senyuman. Kisah simple tapi butuh
pengorbanan. Hidup itu perjuangan jadi jangan pernah bilang kita bakal berenti
disini jangan pernah bilang kalo kita gak sanggup karena sesungguhnya kita gak
pernah tau kalo kita BISA!! soal cinta…………. Hmhm semua adalah proses. Proses
panjang yang mungkin banyak menguras emosi tapi percaya deh… apapun akhirnya cerita
cintanya. Semua pasti ada amanat dan pelajaran. So… never be afraid to make
love to talk
I will not make the same mistakes that you did I will not let myself cause my
heart so much misery I will not break the way you did You fell so hard I've
learned the hard way, to never let it get that far
Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned
to play on the safe side So I don't get hurt Because of you I find it hard to
trust Not only me, but everyone around me Because of you I am afraid
I lose my way
And it's not too long
before you point it out
I cannot cry Because
I know that's weakness in your eyes
I'm forced to fake a smile, a laugh Every day of my life My heart can't
possibly break When it wasn't even whole to start with
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt
Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me
Because of you I am afraid
I watched you die
I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young You should have known better than
to lean on me You never thought of anyone else
You just saw your pain And now
I cry In the middle of the night For the same damn thing
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side
So I don't get hurt Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you I don't know how to let anyone else in
Because of you I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you I am afraid
Because of you Because of you (Kelly kracson_ because of you)
Setelah dirasa rapi, Bagas menuju mobilnya. Dia menarik napas kuat. Hari ini dia akan bertemu banyak orang, dan salah satunya adalah Cindai. tapi dengan kondisinya seperti ini Bagas merasa ingin terus dirumah. Memecahkan pertanyaan yang membuatnya seperti orang aneh “oke. Gue bisa bilang kemaren gue begadang nonton film” Bagas menstarter mobilnya, perlahan melajukannya menunju PIM (pondok indah mall)
Kurang lebih 20 menit dia sudah ada di tempat itu. Bagas berjalan santai menuju j-coo. Tempat dia janjian dengan beberapa temannya untuk membicarakan tugas terbaru dari dosen.
“hei. Baru dateng lo” Josia menyambutnya. Bagas hanya tersenyum tipis,. Hari ini moodnya terlalu jelek
“sorry ya tadi gue bangun agak kesiangan”
“yoi gak papa kali kita juga belum mulai. Masih nunggu Rafli” sahut Angel membuat Bagas mengangguk pelan
“Gas ko mata lo item gitu si. kurang tidur?” tanya Cindai yang memang duduk berhadapan dengan Bagas
“hmhm iya. semalem gue nonton film sampe larut” akhirnya Bagas l memakai jawaban itu. menurutnya itu jawaban bohong terbaik
“oo… kirain ngapain”
“alah… paling ngeronda bukannya nonton film” sahut Josia enteng.
“yee emang gue kaya elo jos tukang ronda alias hansip”
“kata siapa gue hansip,. Gue penjaga keamanan”
“udah jayus banget si kalian berdua” Angel menengahi. Bercandaan cowo-cowo emang aneh, keliatan jayus abis
“eh Rafli dateng tuh” semua menoleh keraah Rafli. Cowo itu sekarang duduk disebelah Cindai. wajahnya terlihat seperti menyesal “sorry ya gue telat. Nyokap gue minta nganterin ke salon dulu”
“its oke yo. Kita juga belum mulai” ujar Cindai melirik Rafli disebelahnya. Bagas yang memang saat itu berada didepan keduanya jelas menangkap atmosfer baru dalam diri Cindai. entah apa itu… tapi yang pasti Cindai berubah canggung. Bagas kenal Cindai lama dan dia tau cewe itu berubah tegang seperti berada disebelah dosen killer
Setelah makan kecil kelima mahasiswa itu melanjutkan tujuan mereka ke sini. Mengerjakan tugas!. Cukup sering perdebatan terjadi. Terutama masalah konsep dan isi. Semuanya punya pendapat masing-masing konsentrasi Bagas seperti terpecah saat itu. dia benar-benar menangkap hal yang ganjal. Cindai berubah!! Biasanya dia kritis dalam menyampaikan pendapat tapi sekarang dia seperti menuruti pendapat Rafli!. Bukan seperti Cindai yang biasanya. entah gimana Bagas mempunyai pendapat Cindai menyukai cowo itu! tapi apa mungkin? Sedangkan Cindai pun jarang ngobrol atau main dengan Rafli.
“Ndai gue mau tanya sesuatu sama lo?” Bagas membuka pembicaraan. Saat ini dirinya dan Cindai sudah selesai dari pekerjaan tadi. Mereka berdua asik jalan di mall sambil menikmati sebuah ice cream sementara yang lain sudah pulang beberapa waktu lalu
“apa Gas?”
“gue ngerasa tadi lo berubah”
“hah? Berubah gimana?” Cindai seakan tak mengerti maksud Bagas
“biasanya lo paling rajin kalo ngasih pendapat tapi tadi ko lo kalem aja ya dan lebih nurut sama pendapatnya Rafli”
Tibatiba Cindai berhenti. Tenggorakannya serasa tersangkut “ko lo bisa punya pendapat gitu gas”
“tuh kan lo jadi kaget gitu. Ya gue ngerasa aja. ada atmosfer yang beda kalo lo deket sama Rafli”
“siapa yang kaget… lagian beda gimana kayaknya biasa aja” Cindai kembali berjalan. Dia berusaha menyusun jawaban jika nanti Bagas bertanya seperti tadi
“gak usah boong gitu kali… gue kenal lo udah lumayan lama dan gue tau kalo lo tadi salting dan canggung. Apa lo suka sama Rafli?”
UHUKKK…Cindai tersedak hebat. Dia gak menyangka Bagas akan langsung menanyakan pertanyaan itu
“lo gak papa kan Ndai?”
“gak papa. Lagian pertanyaan lo aneh” elak Cindai berusaha bersikap biasa
“tapi bener kan?” tanya Bagas takut. Please jawab enggak Ndai atau lo bakal bikin hati gue hancur
“hmhm gue…. Kalo boleh jujur iya”
Sebuah jawaban yang membuat Bagas lemas, jawaban menampar dan sangat menyakitkan. “kok bisa?” suaranya pelan dan nyaris tak terdengar
“gue sendiri gak tau Gas. tiba-tiba perasaan itu dateng aja”
“oke… terus sekarang?”
“gue gak tau. Yah biar ajalah Rafli tau dengan sendirinya”
Bagas mengangguk lemah. Jawaban Cindai sudah cukup menjelaskan semua. Entah gimana hatinya saat ini. Hancur, terluka atau sakit? Bagas rasa semuanya ada. Patah hati!!
“Cindai, gue boleh tanya gak?” ujar Bagas sambil menyusun buku-bukunya. Saat itu mereka sedang ada di perpustakaan. Mencari tugas kuliah seperti biasa
Cindai menoleh, kemudian tersenyum kecil “apa gas. Tanya aja”
Bagas diam sejenak. Hatinya sangat bimbang hingga dia gak tau apa yang harus dia lakukan. Kejadian tempo hari membuat Bagas sadar kalau perasaannya selama ini sia-sia. Perasaan bodoh yang dia simpan rapat-rapat. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Tapi itu akan sama aja memperburuk keadaan
“Ndai, gimana perasaan lo sama Raflisekarang” akhirnya pertanyaan itu terlontar dalam satu tarikan nafas. Dan jujur ada perih yang terasa
Cindai berhanti dari kegiatannya, dia duduk di bangku sambil menopang dagu. Bagas gak ngerti maksud perubahan sikap itu
“Gas, aku bingung. Apa perasaan ini salah karena aku ngerasa ini Cuma buang-buang waktu. Rafli gak akan pernah nerima aku lebih dari temen karena memang diantara kita gak ada yang special tapi kalo boleh jujur aku masih berharap”
“aku ngerti yang kamu rasain Ndai. Dan aku rasa gak ada salahnya kamu punya perasaan itu. setiap orang berhak mencintai dan dicintai”
“tapi kalo cinta itu gak mungkin terjadi?” Cindai membalikkan badannya, menghadap Bagas yang berdiri dibelakang
“kita harus bisa nerima itu, karena itu yang buat bahagia orang yang kita sayang. Mungkin lo tau kata-kata cinta gak harus memiliki. Itu bukan hanya sekedar kata-kata tapi punya makna yang dalem. Gak selamanya kita bisa milikin orang yang kita sayang dan itu bukan yang terburuk tapi justru yang terbaik. Karena kebahagiaan dia nantinya juga akan membuat kita tersenyum kan”
“walau senyum itu pahit”
Bagas mengangguk. itu yang dia rasakan sekarang. Tersenyum dalam kepahitan. tapi buat Bagas itu gak masalah asalkan senyum Cindai gak hilang. Itu udah CUKUP
“elo mau gue bantuin deket sama Difa?” tanya Bagas. Rasa sakit itu muncul begitu pekat
“gak usah Gas. Biar waktu aja yang jawab semua”
“tapi Ndai, apa itu gak akan buat hati lo sakit?”
“gak. Gak sama sekali” jawab Cindai mantap. Bagas memandang Cindai teduh. Andai dia bisa melakukan apa yang Cindai lakukan. Tapi rasa sayangnya begitu besar hingga sulit untuk gak merasakan sakit itu
“Gas, gimana sama Marsha?”
“gak gimana-gimana Ndai”
“Gas boleh gak elo nurutin satu permintaan gue, satu aja. dan gue janji gue akan nurutin apa mau lo”
“ko lo gitu si ngomongnya. Emang mau minta apa?”
“terima Marsha”
BRAKK buku ditangan gabriel jatuh. Dia menatap Cindai nanar.
“sorry Gas tapi gue mohon. Sekali ini aja”
“apa itu buat lo bahagia Ndai?”
“mungkin. Karena buat gue, bisa ngeliat orang lain bahagia dengan orang yang dia sayang itu bahagia gue yang gak ternilai”
Bagas membuang napasnya. Dulu Bagas janji pada dirinya, bahwa dia akan melakukan apa aja asal Cindai bisa bahagia tapi bukan ini!! Tuhan kenapa semua begitu rumit. Apa harus aku mengorbakan perasaan ini. Apa harus aku terluka asal orang aku sayang tersenyum?
“gue pikirin nanti Ndai”
“pikirin ya Gas. Oh ya gue duluan ya, bay”
Sepeninggal gadis itu, Bagas duduk ditempat cewe tadi. Dia memikirkannya. Tapi gak ada satu pun jawaban. Bagas menyobek kertas kosong di bagian belakang buku. Kemudian mengambl pulpen diatas meja
Cindai…….. entah gimana gue bisa nulis ini. Ndai andai ada kesempatan buat muter waktu, gue aka puter waktu itu. gue akan melakukan 2 hal. Gak pernah ketemu lo sama sekali atau pergi saat gue sadar akan perasaan itu tapi gue terlambat, perasaan itu datang tanpa bisa gue cegah. Gue mengangumi lo lebih dari yang lo tau dan lebih dari orang lain. Mungkin gue cowo pengecut Ndai yang gak bisa ngungkapin perasaannya. Karena gue sadar rasa ini terlalu besar, terlalu murni dan terlalu indah. Buat gue, elo beda dari gadis lain. Elo punya tempat special dan hati ini!! Gue rasa Cuma tercipta buat lo. elo cinta pertama gue dan gue harap juga cinta terakhir gue. Walaupun gue sadar itu gak mungkin. Gue tau elo emang gak bisa gue milikin lebih dari temen tapi lo juga harus tau Ndai itu udah cukup buat gue. gue pengen lo tau kalau selama ini apa yang gue rasa itu jujur, gue tersenyum dalam kepahitan dan gue nutup semua celah dalam hati gue, BUAT ELO NDAI. Tapi mungkin ini Cuma cinta dalam hati, cinta yang gak akan pernah berujung. tapi asal lo tau. Mencintai lo dalam hati itu udah cukup buat gue bahagia. You are always beautiful for me and you always wonder this until whenever.
Bagas memandang kertas itu. kertas yang menurutnya lebih mirip surat. Ahh tapi surat itu gak akan sampai pada sivia. dan Bagas gak akan mau kalau surat itu ada ditangan Cindai. biarlah surat ini ada ditangannya. Dan entah sampai kapan
“woy bro” seseorang menepuk pundak Bagas. Membuatnya kembali sadar dari hal indah tadi. Mengangumi Cindai!!
“eh yo. Ada apa?”
Rafli . cowo itu duduk disamping Bagas “gak papa. Nyapa aja. tumben main ke perpus”
“maksud lo? Ya gak papa kan… toh ini punya kampus jadi gue berhak main kesini kan gue bayar kuliahnya”Bagas nyengir
“iyalah yel. Eh tau gak lo buku yang Josia punya? Katanya ada juga ya di perpus?”
“iya tau kok. Emang ada. Ketinggalan lo”
“hehe gue kan jarang main di perpus. Cariin dong”
“yeh… dasar lo. Yaudah bentar” Bagas beranjak pada deretan rak buku. Sementara Rafli hanya memperhatikan Bagas yang meneliti setiap buku besar didepannya.
“loh apaan ni” Rafli memungut secarcik kertas yang tanpas sengaja jatuh saat tangannya menyenggol kertas itu. Rafli menimbangnya. Ada rasa ingin tau dalam dirinya untuk membaca kertas yang dilipat asal itu. tapi suara Bagasl membuat niat itu diurungkan
“Rafli sini lo. Yang ini bukan bukunya?” gumam Bagas tanpa melihat Rafli. Pandangannya masih meneliti deretan buku didepannya
“yoi yang ini. Thanks ya. Eh… cabut yuk. Gue males lama-lama disini haha” Rafli hanya nyngir yang hanya dicibir Bagas dalam hati “dasar. Yaudah yok” Bagas mengambil tasnya tanpa ingat surat rahasia yang baru ia tulis
“yo, ada acara gak lo malem ini?” tanya Bagas saat menuruni anak tangga
“gak ada. Kenapa? Mau ngajak gue kencan?” sahut Difa asal
Bagas memajukan mulutnya. Seenaknya aja Rafli bilang gitu. Dia masih normal kali! “najis deh.. gak. ada yang mau gue omongin sama lo. Penting banget. Jam 7 di café loli”
“oo kirain lo ada rasa sama gue. Hahaha” Rafli masih becanda. Bagas mendengus. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa Cindai bisa suka sama cowo macem Rafli. Yang slengean dan asal kalo ngomong
“Rafli….. gila lo ya. Jadinya gimana? Bisa gak?”
“bisa-bisa. Anytime for you”
Ingin rasanya Bagas lari dari situ. Dia takut kalo Rafli benar-benar ada kelainan….
>>>>>>>>>>>
Bagas duduk diatas kap mobilnya. Sesekali Bagas memandang arloji yang udah nunjukin jam 7 lewat 15 itu. Rafli benar-benar ngaret. Padahal cowo itu kesini naik motor tapi masih aja telat kira-kira jam 7 lewat 20 motor ninja Rafli terpakir dihalaman café loli.. Bagas sengaja gak masuk duluan, mencegah kalo Rafli ngaret dan dia gak mau kalo Cuma bisa duduk manis di dalem. Ternyata dugaannya gak salah kan?? setelah omelan kecil, Bagas menarik Rafli masuk ke dalam café itu. suasana didalam cukup sepi. Hanya ada 5 orang pengunjung disana. Maklum, ini bukan malam minggu !!
Setelah memesan makanan, Bagas memulai obrolannya. Dia menarik napas dalam “Raf… gue mau nanya sama lo. Seandainya ada cewe yang suka sama lo. Tapi dia gak berani bilang. Lo mau ngelakuin apa?”
“apa ya. Ya gue harus tau dulu cewe itu siapa. Kalo emang gue juga suka ya gue terima”
“kalo cewe itu Cindai?” pertanyaan itu meluncur cepat dalam satu tarikan napas
“hah. Cindai? Rafli mebelalakan matanya
“iya lo tau kan”
Gak ada jawaban dari Rafli tapi sedetik kemudian “HAHAHAHAHA”
“ko lo ketewa” Bagas memandangnya heran
“ya abis lo lucu. Ko Cindai”
“gue serius Raf. Dia suka sama lo. Gue sendiri gak tau apa yang bisa nyebabin dia suka”
Rafli kembali diam… cukup lama hingga makanan pesanan mereka datang “sekarang gue deh yang balik nanya. Apa kepentingan lo si sama Cindai sampe bela-belain ngajak gue ketemuan Cuma buat nanya gini?”
Pertanyaan Rafli sangat menampar. Satu alasan!! DIA INGIN MEMBUAT CINDAI BAHAGIA
“kok lo gak bisa jawab”
“hmhm” Bagas hanya mendesah. Entah apa yang harus dia jawab
“udah lo gak usah sembunyi dalam topeng lo itu. jujur Gas. Karena kejujuran lebih berharga daripada memendam”Rafli merogoh saku celananya, mengambil lipatan kertas yang sudah lecek “mungkin lo tau apa ini”
Mata Bagas membulat… dia menepuk dahinya. Menyesali kebodohan itu. kenapa dia bisa lupa akan suratnya?? “lo dapet itu dari mana?”
“gak usah pura-pura gak tau. Gas gue kira lo itu cowok gentle ya. Cowo yang idaman. Tapi apa…. buat ngungkapin perasaan lo sendiri aja gak bisa” cibir Rafli. Bagas gak berkomentar “gue ngerti. Lo punya perasaan sama Cindai udah lama tapi karena suatu hal yang gue gak tau apa dan pasti hal itu gak penting, lo jadi mundur. Lo lebih memilih menyimpan cinta lo yang entah sampai kapan. Membiarkan hati lo sakit dan menebar senyum sebagai topeng”
“lo gak ngerti Raf. Mungkin mudah buat bilang cinta tapi gak mudah kalo lo ada di posisi gue”
“posisi lo emang kaya apa? lo ada di jurang atau ada di hutan lebat sampe linglung dan bimbang gak karuan”
“lo bener… gue emang ada di jurang. Jurang yang dalam. Gue harus bisa bebas dari jurang itu tapi hanya ada 2 pilihan tapi sayang keduanya gak akan bawa gue pulang. Keduanya Cuma akan buat gue sakit. karena 2 pilihan itu emang salah”
“jadi cinta lo buat 2 hati” Rafli menyimpulkan maksud perumpamaan Bagas
“you know? This is worse”
Akhirnya Bagas meceritakan semuanya. Semua yang terjadi. Antara dirinya, Cindai dan Marsha. tentang cintanya kepada gadis yang dia suka begitu lama namun tak ada keberanian untuk dia mengungkapkan. Tapi ketika ada setitik nyali, itu semua surut saat Marsha hadir diantara mereka. Cindai menganggap Marsha begitu pantas untuknya,hingga Bagas menyerah dengan situasi itu
Rafli hanya mengangguk mendengar cerita Bagas. menurutnya ini cukup rumit tapi pasti ada jalan keluarnya. Hanya aja Cuma Bagas yang tau. Rafli merasa Bagas harus milih salah satu. Atau dia gak pilih dua-duanya
“apa menurut lo gue ngehindar aja ya dari dua-duanya?” tanya Bagas mengakhiri ceritanya.
“itu teserah lo tapi menurut gue semua harus ada keputusannya. Lo harus milih satu atau gak sama sekali” Rafli menegaskan. Dia memberi senyum yakin pada Bagas yang hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya
………………………………..
Langit pekat bertambur bintang menemani kebimbangan di hati itu. rasanya buat apa penantian selama itu kalau ujungnya hanya rasa ragu yang ada, buat apa selama ini dia menuggu kalau akhirnya berakhir tanpa hasil. Tapi toh omongan Rafli ada benarnya. Semua harus diputuskan. gabriel harus memilih. Mengorbankan satu cewe entah Marsha atau Cindai. tapi sangat sulit untuk memilihnya. Atau yang terakhir pergi dari kehidupan 2 cewe itu dan gak berurusan dengan mereka sama sekali.
“mungkin gue butuh waktu buat tenang, gue harus menghilang sebentar dari ini semua. Sekedar buat cari jalan yang terbaik” ujar Bagas dengan tarikan napas panjang. Dia memejamkan matanya. Menikmati indahnya malam dengan bintang yang mungkin saksi dari kegalauannya saat ini
Waktu yang berjalan membuat semua berubah. Kisah itu lambat laun berganti. Rasa kehilangan mejalar bersama angin yang bertiup. Entah sampai kapan kisah itu akan terus bergulir. Kisah yang endingnya belum diketahui. Kisah yang jalan ceritanya hanya waktu yang tau. tapi kisah itu yang membuat Cindai sadar akan hal yang baru dalam hatinya. Mungkin dia merasakannya. Merasakan kisah yang memang sengaja di buat. Tapi Cindai gak tau apa inti kisahnya. Yang dia tau sekarang seperti kehilangan sesuatu walapun dia rasa itu tak terlalu besar apapun alasannya. Cindai merasa kehilangan!! Bagas. Sosok itu tak lagi dia temui. Bagas seperti hilang. Di kampus mereka hanya sekali dua kali bertatap muka, cowo itu pun tak menyapa saat bertemu, hanya seulas senyum yang mewakili, bahkan dia seperti sengaja menghilang. Setiap bertemu Bagas berusaha pergi dengan berbagai alasan. Alasan yang masuk akal namun tak jelas untuk Cindai.
‘gue ada tugas’ ‘gue harus jemput adek gue’ ‘senat lagi banyak urusan’ ‘gue ngantuk butuh istirahat’ ‘nyokap sakit’ ‘gue males yang lain aja’ dan berbagai alasan lainnya. Cindai mendesah. Pandangannya menyapu seluruh halaman kampus. Honda jazz hitam itu pun tak lagi terlihat di parkiran. Bagas benar-benar berubah. Tapi apa yang membuatnya seperti itu? pertanyaan itu terus melintas di otak Cindai selama 5 hari ini.
“Cindaiii…….” Rafli membanting tasnya di atas meja panjang di bawah pohon. Tempat cewe itu duduk dan melamun. Cindai meliriknya sebentar kemudian kembali melamun. Sekarang perasaannya hilang begitu saja. Perasaannya terhadap Rafli! Yah entah gimana caranya tapi itu terjadi begitu aja. mungkin Rafli emang bukan yang terbaik dan rasa sukanya hanya sesaat
“Ndai ko diem si. lagi pms ya?” tanya Rafli enteng.
“gak” Cindai menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin becanda apalagi becandaan garing seperti tadi
“kenapa? Kangen sama someone?”
“gak tau”
“aduhh dasar orang galau. Susah diajak ngobrol”
“siapa yang galau. Enggak”
“masa si? tau gak tanda-tanda orang galau. Dia suka ngelamun, dan mikirin orang yang menurut dia berarti. Lo miirin Bagas kan?”
Cindai menoleh. Dia tersentak. Kenapa cowo itu bisa tau? apa begitu kelihatan?
“gak usah kaget. gue tau kok bahkan gue tau lebih dari lo”
“maksudnya Raf?” Cindai mengerutkan dahinya.
“mungkin saatnya lo tau ini… gue juga cape kalo harus nyembunyiinya apalagi ngeliat lo uring-uringan gini ndai” Rafli membuka tasnya. Mengambil sebuah kertas yang sudah amat lecek. Lebih lecek saat surat itu dia kasih ke Bagas tempo hari
“lo baca isinya dan lo akan tau yang sebenernya. Oh ya lo tau Marsha kan?”
Cindai mengangguk “kenapa sama Marsha?”
“dia udah ngerti semuanya dan dia berharap yang terbaik” Rafli bangkit dari duduknya. Meninggalkan Cindai dengan segala rasa bingungnya setelah memandang sepersekian menit. Cindai menyerah. Dia memilih membukanya
Entah ribuan batu itu datang dari mana. Tapi yang pasti Cindai merasa sakit. apa yang telah ia perbuat? Apa yang telah ia lakukan pada orang setulus Bagas? Dan kenapa dia bisa melakukan itu? Cindai merasa sangat bodoh. Dia memaki dirinya sendiri. Ya Tuhan gue pasti jahat banget. Kenapa gue bisa nyakitin Bagas kenapa dia gak pernah tau itu semua. Dan kenapa dia malah membuat Bagas menerima Marsha? Cindai menelungkupkan wajahnya. Ingin dia menangis. Kenapa dia membiarkan orang yang benar-benar tulus itu pergi? Apa dia begitu egois?
“nangis sepuasnya kalo emang itu membuat semua lebih baik”
Cindai mendongak,mencari asal suara itu “Marsha” suaranya parau, mungkin kerana dia terlalu ingin menahan tangisnya
“aku udah tau semua ndai”
“Marsha aku minta maaf. Aku sendiri baru tau sekarang”
“harusnya aku yang minta maaf. Aku sadar cinta itu gak bisa dipaksain. Hati Bagas untuk kamu. Dan itu gak pernah berubah walaupun ada seribu aku”
“aku tau sha dan aku merasa jahat,egois,bodoh” ujar Cindai. suaranya serak dan ada sedikit air mata dikelopak matanya
“jangan pernah salahin diri sendiri ndai karena itu sama aja memperburuk keadaan. Kalo emang kamu nganggep Bagas berarti dan kamu kehilangan dia. Kejar dia” Marsha tersenyum. Senyum penuh arti. Cindai tau dia mengucapkan itu tulus
“apa kamu gak akan cemburu?”
Marsha tertawa renyah “apapun rasa itu, cemburu atau apa. itu bukan hak aku. Yah emang awalnya aku kesel,marah,sedih,kecewa tapi kemudian aku tau itu semua gak ada artinya. Jadi buat apa aku mikirin lebih baik aku coba cari lembaran baru. Itu lebih bagus kan” Marsha menepuk pundak Cindai. ucapannya seperti nasihat untuk Cindai saat ini. Mungkin benar, rasa bersalahnya sekarang gak ada artinya, itu semua Cuma kerikil tajam yang gak akan ngebuat kisah ini selesai
“tapi aku udah terlambat kan. Bagas mungkin udah membuang perasaannya jauh-jauh dan aku juga ngerasa bersalah banget sama dia sha. Aku udah nyuruh dia ngelakuin hal yang sama sekali gak dia mau. Mencintai kamu”
“gak ada kata terlambat ndai, kalo emang Bagas tulus sama kamu, dia pasti akan nunggu kamu dan percaya deh. Apa yang dia lakuin sekarang, seperti menghindar semua demi kebaikan kita. Aku, kamu dan Bagas sendiri” Marsha tersenyum penuh arti. Gurat wajahnya benar-benar jujur. Jadi dia mengucapkan itu bukan semata-mata menghibur tapi Marsha benar-benar sudah menghapus perasaannya kepada Bagas.
“kok kamu udah tau duluan si?”
“aku tau ini dari Rafli dan Bagas. Aku gak sengaja denger perbincangan mereka beberapa hari yang lalu saat mereka makan di kantin. Jujur aku shock tapi setelah mendapat penjelasan aku ngerti semua. Aku jadi orang ketiga” Marsha tertawa kecil. Cindai merasa kehangatan dari tawanya “tapi itu bukan salah aku kan? Aku sendiri gak tau yang terjadi sebenernya. Makanya sekarang aku ingin memperbaiki semua. Yah mungkin cinta aku bukan Bagas tapi seseorang yang lebih baik”
“kamu hebat sha. Aku kagum sama ketegaran kamu”
“itu bukan ketegaran tapi memang kewajiban hehe. Sekarang kamu harus selesaiin semuanya” kata Marsha yakin.
Cindai menyetujui ucapan itu. dia harus menyelesaikan proses ini! “aku akan selesaiin kisah ini sha”
“iya HARUS!!!”
Penyesalan hanya ada diakhir tapi penyesalan bukan akhir dari segalanya. Justru penyesalan adalah pembelajaran. Cindai merasakannya. Dia sadar semua itu udah terjadi. Dan sekarang dia harus memperbaikinya beberapa jam lalu dia sudah mengirim pesan yang isinya menyuruh Bagas datang kesini. Ke bukit kecil di dalam kota. Tapi mungkin Bagas gak akan datang. karena ini sudah lewat 1 jam dari pesannya
“aku akan disini entah sampai kapan” Cindai memejamkan matanya. Merasakan angin yang menerpa wajah dan helai-helai rambutnya. Hatinya perih tapi mungkin gak ada apa-apannya jika dibanding Bagas.
“Bawa perasaan ini terbang dan hilang bersama angin, bawa pergi ke langit,terbang ke samudera hindia,pasifik,tenggelem dia laut mengalir ke kutub, membeku dan akhirnya mati tanpa bisa mencair” Cindai terus memejamkan matanya. Rambutnya terbang bersama angin. Tapi ngga bersama perasaannya
“jangan hilangin perasaan itu ndai” sesaat suara itu terdengar lembut. Tapi Cindai bergeming dia tetap memejamkan matanya. Buatnya suara itu hanya halusinansi karena sampai kapan pun suara itu gak akan datang untuknya
“aku disini. Buka mata kamu. Jangan pernah bilang kalo kamu akan membuang perasaan itu” tangan kekar itu Cindai rasa begitu nyata. Beberapa detik dia hanya merasakannya sampai kini badannya diputar beberapa derajat “buka mata lo” perlahan Cindai membuka matanya. Merasakan kehangatan yang lain, kehangatan yang nyaman
“Bagas” orang itu berdiri tegak didepannya. Wajahnya tersenyum. Senyuman yang beberapa minggu ini menghilang
“sorry gue telat”
“gue kira lo gak mau dateng” ujar Cindai lirih. Wajahnya kini berada dekat dengan wajah Bagas
“gue bukan gak mau dateng tapi gue takut. Cindai sorry ya selama beberapa minggu ini gue ngehindar dari lo,ngejauh bahkan terkesan aneh. Tapi itu bukan karena gue marah atau ada masalah tapi itu karena gue gak mau bikin hati seseorang sakit dan buat semuanya tambah kacau. Gue tau elo udah tau semuanya kan?”
“iya. dan elo udah buat gue jadi orang yang paling jahat” Cindai menatap mata bening Bagas. Ada teduh dan rasa nyaman yang ia rasakan tapi kenapa ia baru sadar itu sekarang? Kenapa ngga sejak dulu?
“gue Cuma takut ndai kalo gue terus berada dalam posisi itu justru gue yang merasa jadi cowok paling jahat. Gue gak mau nyakitin siapa pun jadi gue mutusin buat lari dari itu semua walaupun pada akhirnya gue sadar itu gak akan nyelesaiin masalah” gumam Bagas, dia balas menatap Cindai.
“apapun alasannya gue lah orang yang salah dalam cerita ini gas. Gue gak peka sama perasaan lo, gue terlalu egois dan selalu mentingin perasaan Marsha. padahal gue gak tau perasaan lo ke dia kaya apa”
Bagas tersenyum kecut. Memang benar. Cindai salah. Salah kerana dia ngga bertanya dulu apakah dia juga menyukai Marsha.
“Cindai,,, selama ini gue pake topeng. Topeng dari hati gue yang kalut. Topeng dari diri yang pengecut. Tapi akhirnya gue harus buka topeng itu. karena gue sendiri gak tahan. Gue mau semua orang tau apa yang ada di dalam hati gue. Dan sekarang topeng itu terbuka tapi elo udah tau soal itu bahkan sebelum gue berani ngelepas topengnya”
Cindai kembali mengernyit. Omongan Bagas susah untuk dicerna “maksudnya?”
“iya. gue baru berani buka topeng itu beberapa jam yang lalu. Saat Rafli dan Marsha nyamperin gue dan bilang kalo topeng itu udah gak ada artinya lagi, kalau elo lagi nunggu gue disini dan kalo gue gak nyamperin elo, gue akan kehilangan penantian gue untuk kedua kalinya” Bagas menarik lembut tangan Cindai. “gue pengecut ya ndai? Cuma bisa memendam cinta?” Bagas tersenyum sambil mengerlingkan matanya
“iya elo pengecut!! Kenapa si elo gak jujur. Dan kenapa elo malah mau bantuin gue deket sama Rafli?” sahut Cindai. senyumnya yang manis kini kembali terlihat
“karena apa yang buat lo bahagia gue akan lakuin. Itu janji gue ndai”
Cindai merasakan hatinya mencelos. Tuhan… kenapa dia bisa melewatkan ini?melewatkan cowo setulus Bagas.
“oh ya gimana sama Rafli?” Bagas kembali mengerling, membuat Cindai melotot kearahnya “maksudnya??? Gue udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Ternyata itu Cuma perasaan sesaat. Oh ya elo tau gak perasaan kehilangan gue lebih dari perasaan suka gue ke Rafli”
“loh kok gitu?”
“soalnya gue sadar gue gak bisa kehilangan lo” Cindai menjawabnya dengan nada yang susah diartikan. Suaranya terkesan jail namun ketulusan juga terlihat dari nada bicaranya
Bagas tersenyum. Mungkin memendam itu baik tapi yang gak baik kalo harus mengorbankan orang yang kitas sayang. Dan sekarang dia telah mendapatkan penantiannya. Cindai!!
“jadi bener ni udah gak suka lagi sama Rafli. Dia kan ganteng” Bagas tersenyum jail
Cindai hanya manyun dan melepaskan genggaman Bagas “ih kamu ya. Bener deh aku tuh udah gak suka lagi sama Rafli. Mungkin aku Cuma kagum dan sekarang aku sadar satu hal kalo orang yang aku sayang ada didepan mata ku sendiri dan bodohnya aku melewatkannya dulu” Cindai mengucapkannya sambil melempar tatapannya kesegala arah, ia ngga berani kalo harus melihat mata Bagas saat ini. Cindai takut penyesalannya semakin besar
“itu bagian dari proses ndai. Gak ada yang perlu disesalin. Aku juga salah kok. Aku terlalu kalem sama perasaan sampai aku rela nyakitin perasaan aku sendiri”
“oh ya masalah Marsha gimana? Apa dia…”
“aku rasa dia bisa ngerti. Dia dewasa dan bahkan dia yang maksa aku kesini” Bagas memotong ucapan Cindai. perlahan Bagas maju dan kembali pada posisi awalnya. Berhadapan dengan gadis itu
“would you be my girl friend?”
“ciyeeee… terima aja ndai” suara itu terdengar dari balik ilalang. 2 orang manusia dengan jailnya bersuil. Yap!! Mereka Rafli dan Marsha. entah sejak kapan kedua orang itu berada disana
“loh kok?”
“sorry ya mereka emang ikut kesini tapi aku juga gak tau sampe ngintip” Bagas gantian menatap Marsha dan rafli. Tatapan murka lebih tepatnya
“abis gue takut aja lo gak jadi nyatain cintanya makanya nyegah-nyegah gue kesini hehe” rafli nyengir dan berjalan mendekat
“iya dan ternyata Bagas berhasil melakukan hal yang buatnya sulit itu.suatu hal yang dulunya gak mungkin buat dia” timpal Marsha dia kini berdiri disamping Cindai dan merangkulnya
“tapi elo berdua jadi ganggu tau”gumam Bagas setengah kesal. Rafli hanya tertawa “oke deh gue gak mau ganggu. Sha dari pada jadi nyamuk meningan kita ketempat lain. Mereka mah jadul kencan di bukit yang ada ilalangnya gini. Gak gaul. Meningan kita ke café”
“oo jadi rafli ngajak marsha kencan. Ehem ada apa ya?” Cindai berdeham pelan. Dia melemparkan senyum mengejek kepada Rafli. Sementara Marsha hanya bisa mendelik “what? Gak lah ndai…”
“kalo iya juga gak papa?” timpal Bagas. Rafli Cuma bisa bergumam pelan “ko jadi gue yang kena”
“eh eh tapi kalian berdua cocok loh. Kalian kan bagian dari kisah gue sama Cindai” Bagas berpendapat yang langsung diangguki Cindai “yap betull!”
“tapi gak gini juga” tanpas sadar Rafli dan Marsha mengucapkan kata yang sama. Mereka saling berpandangan dan jelas! Saat itu wajah Marsha bersemu merah
“ahahahahahaha” Cindai dan Bagas tertawa lepas
Tawa itu terdengar bersama suara angin dan kicauan burung. Tawa dari mereka yang merasakan indahnya bahagia, indahnya dari akhir cerita yang gak terduga. Hidup memang misteri, semua sudah ada jalannya dari mulai prolog hingga epilognya. Namun tetap aja yang menentukan alur itu hanya Tuhan dan waktu. tapi bagaimanapun akhirnya toh semua punya kesan. Kesan yang tertinggal di halaman terakhir. Bagas menutup kisahnya dengan berbagai makna. Makna akan kejujuran dan cinta yang tulus. Dan satu yang terpenting. Makna dari sebuah proses yang rumit ………………………………………………..
Cindai menatap note book didepannya tanpa berkedip. Entah apa yang begitu menyedot perhatiannya. sekarang tepat seminggu sejak kejadian di bukit itu. Cindai merasa hidupnya penuh warna. Yang paling simple dia PUNYA PACAR BARU SEKARANG!!
“Cindai ngapain si?” Bagas duduk disebelahnya sambil menyerahkan sekaleng fanta
“ehm lagi ngecek tugas gas”
“segitunya ndai. Oh ya ada kabar bagus loh” Bagas mengerling genit. Berusaha menyedot perhatian Cindai
“hmhm apa?” tanyanya datar. Bagas manyun. Caranya gak berhasil
“MARSHA SAMA RAFLI JADIAN”
“apa???” Cindai terperanjat. Dia menatap Bagas gak percaya “kok bisa?”
“itu yang namanya takdir. Semua gak pernah sama seperti apa yang kita mau. Yahh mungin mereka terlibat cinta tak terduga. Seperti yang kita bilang. Mereka kan bagian dari kisah kita jadi Tuhan adil dengan membuat kisah mereka sendiri hehe”
“iya juga sih. Makin pinter aja sih kamuuu” Cindai mencubit hidung Bagas hingga bersemu merah
“iya dong gue gitu haha”
“dasar”
“eh ndai dengerin gue deh ehem” Bagas berdeham kecil sejurus kemudian menatap Cindai serius “you are the most beautiful woman today. You always fill my heart with your smile. I'm happy to have you”
“hahaha iya deh aku juga”
Dan akhirnya kisah ini berakhir dengan senyuman. Kisah simple tapi butuh pengorbanan. Hidup itu perjuangan jadi jangan pernah bilang kita bakal berenti disini jangan pernah bilang kalo kita gak sanggup karena sesungguhnya kita gak pernah tau kalo kita BISA!! soal cinta…………. Hmhm semua adalah proses. Proses panjang yang mungkin banyak menguras emosi tapi percaya deh… apapun akhirnya cerita cintanya. Semua pasti ada amanat dan pelajaran. So… never be afraid to make love to talk
I will not make the same mistakes that you did I will not let myself cause my heart so much misery I will not break the way you did You fell so hard I've learned the hard way, to never let it get that far
Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me Because of you I am afraid
I lose my way
And it's not too long
before you point it out
I cannot cry Because
I know that's weakness in your eyes
I'm forced to fake a smile, a laugh Every day of my life My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt
Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me
Because of you I am afraid
I watched you die
I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young You should have known better than
to lean on me You never thought of anyone else
You just saw your pain And now
I cry In the middle of the night For the same damn thing
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side
So I don't get hurt Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you I don't know how to let anyone else in
Because of you I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you I am afraid
Because of you Because of you (Kelly kracson_ because of you)