Rabu, 06 Maret 2013

Di Balik Awan



Karya : Aiyas
Facebook : Aiyas Mutiara


Selalu saja, gumpalan putih koloni awan-awan di langit yang menghiasi langit cerah. Seakan menggambarkan suasana hati para pemirsanya. Berubah bentuk sesuai keinginannya, terbang berarak di tingginya langit yang sulit digapai. Awan. Adalah pelipur gundah Cindai, gadis 12 tahun yang kini sedang berbaring di atas hijau rumput ditemani sahabatnya dari kecil, Bagas.
“Udah lama kita nggak ke sini.” Kata Bagas pelan.
“Semua masih sama, kan?”
“Selain umur kita yang makin tua, semuanya masih sama, ndai.”
“Hahaha. Loe ada-ada aja.”
“Huh…” Bagas menghela nafas panjang.
“Kenapa, Gas?”
“Gue kangen saat-saat kita maen bareng di sini dulu…”
“Huh…” Cindai bergantian menghela nafas, “gue juga, Gas…”
“Mau maen kejar-kejaran lagi?”
Cindai terdiam, berpura-pura ragu. “Ehm…”
“Ayolah!” Bagas menarik tangan Cindai sampai ia berdiri. Seperti mengulang masa-masa kecil, mereka bermain kejar-kejaran. Ya, Cindai dan Bagas memang bersahabat. Kolong langit, hamparan tanah rumput adalah tempat mereka melepas lelah dan bermain bersama sambil memandangi langit dan awan.
“Udah ah, Gas. Capek gue hh hh hh.” kata Cindai yang duduk selonjoran.
“Halah hh hh masa gitu aja hh udah capek?”
“Emang loe nggak capek? Hh hh..”
“Capek.”
“Huu!” Cinda menoyor kepala Bagas, kemudian ia berbaring lagi di rerumputan, diikuti Bagas di sampingnya.
“Awan kok nggak pernah capek, ya?” tanya Cindai memandangi langit.
“Kaya gue, kan?” balas Bagas PD.
“Ha? Loe aja udah ngosngosan begitu, bisa bilang nggak pernah capek?”
“Eh, ndai. Denger ya, gue kan udah sering bilang. Gue itu awan, loe langitnya, awan itu setia banget sama langit. Nggak pernah capek nemenin langit di atas sana. Sama kaya gue yang mau setia nemenin elo.”
Cindai terdiam sesaat, “masa sih?”
Bagas mengangguk mantap.
“Gue punya lagu khusus buat kita, langit dan awan.”
“Oya? Apa itu?”
“Ehm, lain kali gue pasti nyanyiin ke elo.”
“janji ya?”
“Iya!”
Kemudian semuanya hening hingga beberapa menit.
“Udah gelap. Pulang yuk!” ajak Bagas pada Cindai. Baru saja ia akan berdiri, dilihatnya Cindai yang tertidur pulas di atas rumput. Bagas tersenyum kecil. Wajah tertidur Cindai nggak pernah berubah dari dulu. Selalu aja terlihat manis. Perasaan Bagas juga masih sama, ia masih menyimpan perasaan khusus pada Cindai. Hanya saja hatinya belum berani mengungkapkannya. Bagas mengangkat Cindai dan menggendongnya pulang…

***

“Kyaaa!!” teriak Cindai di kelas.
“Kenapa sih loe?” tanya Bagas. Mereka memang sekelas.
“Loe tau kakak kelas kita yang namanya Rafli, kan?”
“Ehm… tau. Emang kenapa?”
“Ternyata dia juga ikut ekskul musik. Jadi setiap Senin gue bisa ketemu dia, deh…”
“Emang kenapa kalo loe ketemu sama dia terus?”
“Yah elo gimana sih, Gas. Gue kan udah pernah bilang, gue naksir sama Kak Rafli. Gue suka sama dia. Dan sekarang peluang buat dapetin dia lebih besar! Aih, senengnya…”
Bagas terdiam, ada sedikit rasa jealous di hatinya, dia pun lebih memilih diam sambil mendengarkan Cindai.
“Loe kok diem?” tanya Cindai.
“Nggak apa-apa. Loe seneng sekarang?”
“Bangeet, Gas…”
“Kalo gitu gue juga seneng.” Jawab Bagas kemudian beranjak dan meninggalkan Cindai yang bingung.
Sore ini, Bagas merenung di kolong langit, kali ini sendiri tanpa Cindai di sampingnya. Memang ini yang ia inginkan, menyendiri, karena Cindai mulai sibuk dengan Rafli yang ia puja-puja itu. Kemarin, Cindai bercerita kalau Rafli satu ekstrakulikuler dengannya, lalu tadi pagi Cindai bilang mau latihan bareng dengan Rafli. Rasa-rasanya Bagas seperti tersingkirkan. Tapi, huh… mungkin tidak baik terlalu negative thinking kaya begini. Berulang kali, Bagas menghibur dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa Cindai tidak akan melupakannya apalagi menyingkirkannya, Cindai hanya terlalu senang karena impiannya untuk lebih kenal dengan Rafli terwujud sampai-sampai ia sedikit, sekali lagi sedikiit melupakan Bagas. Ya, semoga itu benar.

***

“Pulang bareng Rafli?” tanya Bagas sedikit kaget saat mendengar penjelasan Cindai di kelas pagi ini.
“Iya. Loe tau nggak. Gue seneeeng banget bisa diboncengin sama Rafli. Dia tuh…”
“Brak!” Bagas menggebrak mejanya dan berlalu. Cindai kaget sekali melihat respon sahabatnya itu.
“Gas!” panggil Cindai kemudian mengejar Bagas.
“Gas, tunggu! Loe kenapa?! Loe marah sama gue?!” Cindai mengejar Bagas, mereka berbicara sambil berjalan.
“Nggak!” jawab Bagas jutek.
“Nggak gimana? Oke, kalo loe marah, gue minta maaf. Tapi jelasin ke gue kenapa loe marah?!”
Bagas berhenti dan menatap Cindai tajam, “Gue nggak marah.” Lalu pergi menuju parkiran, Cindai yang lelah mengejar akhirnya diam dan menyaksikan Bagas berlalu.
“Bagas…” lirih Sivia putus asa.
“Ndai?” kata seseorang di belakang Cindai.
“Eh, Kak Rafli?”
“Kita jadi pulang bareng, kan?”
“I, iya.”
“Terus kenapa kamu di sini?”
“He? Eng, nggak kok. Itu si…” Sebenarnya Cindai masih ingin mengejar Bagas, tapi…
“Yaudah ayuk buruan ke parkiran!”
Cindai dan Rafli menuju ke parkiran dan di sana Cindai berpapasan dengan Bagas. Masih jelas terlihat Bagas marah, dan Bagas berusaha menghindari Cindai. Cindai bingung, kenapa sebenernya Bagas.
“Yuk Ndai!” ajak Rafli agar Cindai naik ke jok motor Ninjanya.
“I, iya.”

 ***

From: Cindai Chindai
Yel, loe marah sama gue? mau nggak kita ketemuan di kolong langit sore ini?

Itu bunyi sms dari Cinda yang mendarat di hape Bagas, membuat Bagas terbangun dari tidurnya. Wajahnya berubah senang.

To: Cindai Chindai
Oke. Gue tunggu loe jam 4

Seperti janji mereka, Bagas pun pergi ke kolong langit, jam setengah empat, tentu belum ada siapa-siapa di sana. Oke, mungkin gue harus sabar nunggu Cindai. Jujur, gue kangen banget. Batin Bagas sambil tiduran di rerumputan.

***

Cindai mengenakan cardigannya, cardigan yang baru saja dibelikan Rafli sepulang sekolah tadi sebagai tanda jadian. Ya, mereka jadian sepulang sekolah tadi. Rafli mengajak Cindai ke kafe, dan menyatakan perasaannya.
‘Trrt Trrt’ hape Cindai bergetar.
“Halo?” sapa Cindai.
“Hai, beb. Ada acara nggak? Aku mau ajak kamu ke kafe tadi nih. Aku mau rayain jadian kita.”
“Eh?”
“Gimana, beb?”
Cindai melirik ke jam monol putih di tangan kirinya, jam setengah empat. Masih ada waktu setengah jam untuk berdua dengan Rafli sebelum pergi ke kolong langit.
“Oke, tapi aku nggak bisa lama-lama.”
“Aku jemput kamu tiga menit lagi.”

***

Bagas masih setia menunggu. 16.15. itu angka yang tertera pada jam digital casionya. Mungkin Cindai masih di jalan. Pikirnya positif. Bagas pun kembali merebahkan tubuhnya.

***

“Kamu suka makanannya?” tanya Rafli.
“Suka. Enak kok.” Jawab Cindai sambil sesekali melirik ke jam tangannya.
“Kamu kelihatan gelisah. Kamu buru-buru?”
“Ehm, maaf Kak. Sebenernya aku ada janji sama temenku jam 4 tadi.” Jawab Sivia akhirnya.
Rafli melihat jam, “Sekarang udah lewat lima belas menit.”
“Iya aku tau. Gimana ya, Kak?”
“Janji sama siapa emangnya?”
“Bagas.”
“Oh, Bagas. Aku kira dia pasti bisa ngertiin kalo kamu lagi ada urusan sampe-sampe nggak bisa nepatin janji.”
“Oya?”
“Iya. Bagas nggak akan marah.”
“Oke. Bagas pasti ngertiin aku.”
Rafli tersenyum kecil lalu mengecup pipi Sivia.
“Kak?” Cindai kaget.
“Nggak usah panggil kak. Rafli aja. Habis ini kita ke mall ya.”
Cindai mengangguk, rona merah di pipinya perlahan menjalar lembut.

***

Bagas terbangun dari tidurnya yang cukup lama. Dan mendapati hari sudah gelap. Refleks Bagas melihat ke jam tangannya. 18.30. setengah tujuh malam! Itu artinya Bagas menunggu di tempat itu selama tiga jam. Tiga jam Bagas menanti kedatangan Cindai. Cindai yang tiga jam yang lalu berjanji akan menemuinya di tempat itu. Bagas mengecek hapenya. Mungkin ada sms dari Sivia. Tapi ternyata nihil. Nggak ada satu sms pun dari Cindai. Bagas menahan amarahnya. Kemudian mengambil motornya dan ngebut pulang.

***

“Makasih, ya Raf…” kata Cindai kepada Rafli.
“Iya. Aku pulang ya, beb. Love you…”
“Love you too…”
Rafli melaju pergi. Dari jauh Bagas melihat adegan itu. Jadi ini alasannya kenapa Cindai bisa lupa sama janjinya ke gue. batin Bagas marah.
Malamnya, Cindai mencoba menelepon Bagas tapi nggak diangkat, tadi Bagas mematikan hapenya. Cindai merasa bersalah, tapi perkataan Rafli tadi meyakinkannya agar tidak khawatir. Cindai melihat tumpukan plastik berisi belanjaan yang tadi dibeliin Rafli. Senyumnya tersungging lembut.

***

Pagi ini hujan turun gerimis. Tak ada awan yang melintasi langit seperti biasanya. Mungkin itu gambaran hati Bagas sekarang ini. mendung, gerimis dan sakit…
Bagas memasuki kelasnya dengan lelah. Kemudian duduk di bangkunya.
“Bagaaas!!!” teriak seseorang yang memasuki kelas. Cindai yang rambutnya sedikit basah kena air hujan. Bagas nggak memberikan respon apa-apa.
“Bagas, loe tau nggak! Gue jadian sama Rafli!”
‘Jdaar!’ suara petir bersamaan dengan kagetnya Bagas.
“Teruus, tadi dia jemput gue ke rumah dan nganter gue ke sekolah! Ya, ampun Gas. Gue seneeng banget!” Cindai bercerita dengan penuh semangat. Tanpa memikirkan perasaan Bagas yang sedari tadi menunduk.
“Gas, loe seneng, kan?”
Bagas mengangkat wajahnya perlahan. “Jadi itu alasan kenapa loe ngebiarin gue nunggu tiga jam di kolong langit?” tanya Bagas tanpa marah sedikit pun.
“Eh? E, elo nungguin gue?”
“Jelaslah. Gue kan setia sama loe.”
“Ma, maaf, Gas. Gu, gue nggak bermaksud…”
“Loe seneng nggak, kemaren?” tanya Bagas berusaha tersenyum.
“Se, seneng banget.”
“Kalo gitu gue juga seneng.” Jawab singkat Bagas sambil tersenyum pahit.
“Loe serius? Loe nggak marah??” tanya Cindai, dibalas anggukan mantap Bagas, “Makasih ya, Gas. Loe emang sahabat terbaik gue!” Cindai memeluk Bagas erat.
‘Iya, Ndai. Cuma SAHABAT’

***

Bagas menstarter tigernya, ia ingin segera pulang dan menumpahkan semuanya di kolong langit, menceritakan semuanya pada arakan awan tentang kejamnya cinta sebelah tangan. Terlihat dari jauh, Cindai sedang dipeluk Rafli di depan kelasnya. Pemandangan itu membuat Bagas memacu motornya kencang.
“Awaaaan!!!” teriak Bagas merentangkan kedua tangannya menengadah ke langit sesampainya di kolong langit, “kenapa cinta itu kejam bagi gue!!!”
Bagas duduk bersimpuh, “Hal yang paling menyakitkan di hati gue adalah ngeliat Cindai, cewek yang gue sayang sama cowok laen! Dan itu baru aja terjadi sama gue!! Apa yang musti gue lakuin?! Di satu sisi, gue sayang banget sama Cindai. Tapi di sisi laen, gue nggak tega liat dia sedih, dia sayang banget sama Rafli, dan belumm tentu Cindai ngerasain kebahagiaan kalo sama gue!!”
Bagas merasakan gerimis mulai turun. Membasahi rambutnya perlahan. Tampaknya awan ikut menangis.
Bagas memutuskan untuk pulang, setidaknya ia sudah cukup lega. Dan ia bisa sedikit merelakan cintanya kandas asalkan Cindai bahagia.
Di jalan Bagas terkejut saat mendapati seseorang keluar dari sebuah kafe, sepasang kekasih yang tampak tertawa bahagia, itu Rafli dan sialnya cewek di sampingnya bukan Cindai. Shit! Bagas memacu motornya lebih kencang untuk menyusul cowok brengsek itu. mereka memasuki jazz merah dan melaju. Tapi, sialnya Bagas kehilangan jejak mereka karena lampu merah. Cindai harus tau ini!

***

Keesokan harinya…
“Bagaaas!! Liat deh gue dikasih sesuatu sama Rafli!” kata Cindai dari dalam kelas menyambut Bagas yang baru datang. Cindai membawa sebuah kotak yang isinya kotak musik.
“Semalem Rafli ngasih ini ke gue. ya ampuun, gue seneng banget, Gas…” kata Sivia kegirangan. Tapi, Bagas merebut kotak itu dan membantingnya ke lantai.
‘Praang!’
“Gas!! Apa-apaan sih loe!!” marah Cindai lalu memungut kotak itu di lantai, tapi tangannya dicegah Bagas.
“Ngapain loe bangga-banggain barang dari cowok brengsek kaya Rafli?!” bentak Bagas.
“Maksud loe apa sih, Gas!!”
“Asal loe tau, ya! Cowok yang loe puja-puja itu Cuma cowok playboy yang maenin elo!!”
‘PLAK!’ Cindai menampar pipi kiri Bagas.
“Jangan asal ngomong loe, Gas!! Rafli nggak kaya gitu!”
Bagas mengusap tepi bibirnya yang berdarah, “gue nggak bohong, Ndai. Gue liat Rafli jalan sama cewek laen kemaren! Loe harus percaya sama gue, Ndai!”
“Nggak!! Rafli gue nggak kaya gitu, Gas! Rafli sayang sama gue! dia sendiri yang bilang! Loe pasti bohong! Dari awal loe nggak suka sama Rafli, kan? Makanya loe fitnah dia kaya gini!”
“Cindai! Demi Tuhan gue nggak kaya gitu!!”
“Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Gas! Cowok kaya loe nggak pantes nyebut nama Tuhan! Loe bukan sahabat gue lagi!” Cindai berlari meninggalkan Bagas.
“Cindai! Percaya sama gue! Gue Cuma nggak mau loe kecewa karna cowok sialan itu! Gue sayang loe, Ndai!!” teriak Bagas tapi nggak digubris Cindai. Ia tetap berlalu, mungkin pulang. Sementara Bagas duduk tersungkur di lantai meremas rambutnya. Kemudian dipungutnya kotak berisi music box itu.
***
“Awaan!! Kenapa orang yang gue percaya justru mau misahin gue dari cinta gue! kenapa Bagas tega ngelakuin itu sama gue! semua itu bohong, kan?! Itu nggak bener, kan?! Rafli, nggak mungkin kaya gitu, kan? Gue sayang sama Rafli…” Cindai mengadu pada awan di kolong langit. Ia menangis sejadi-jadinya. Dan lagi-lagi hujan turun membasahi air mata Cindai yang duduk memeluk lututnya sambil sesegukan.

***

Bagas menuju kelas Rafli dan sebuah bogeman mendarat di mata kiri Rafli.
“Apa-apaan loe!!” bentak Rafli.
“Gue yang nanya! Apa-apaan loe! Loe udah selingkuh dari Cindai, kan?! Loe maenin Cindai, kan! Loe tega ngelakuin itu sama cewek sebaik Cindai! Brengsek loe!”
“Heh, apa urusan loe!”
“Asal loe tau ya! Gue ngerelain Cindai sama loe karena gue kira loe pasti bisa bahagiain dia! Tapi ternyata nggak! Loe malah nyakitin dia!”
“Terus kenapa? Loe suka sama dia! Pacarin aja dia! Gue udah nggak butuh dia lagi!”
‘Bugg!’ sekali lagi Bagas  menonjok muka Rafli, dan Rafli pun membalas.
“Gue akan hancurin elo, Raf! semua orang akan tau siapa loe sebenernya! Siapa Rafli dibalik topengnya! Liat aja Raf!” Bagas  menunjuk muka Rafli, kemudian beranjak pergi, sambil memegangi tepi bibirnya. Rafli sedikit begidik dengan perkataan Bagas  barusan.
Bagas  mencoba menyusul Cindai ke kolong langit, ia yakin Cindai ada di sana. Dan benar saja di sana Bagas  mendapati sosok Cindai yang pingsan kedinginan di rumput.
“Cindai!!” panggil Bagas . “Cindai loe kenapa?!” kata Bagas  mengguncang-guncangkan tubuh Cindai yang mulai kaku.
“Ngapain loe ke sini?! Loe jahat sama gue, Gas!”
“Ndai, plis ayo kita pulang!”
“Nggak gue masih mau di sini! Gue mau ngadu ke awan kalo loe udah jahat sama gue!”
“Cindai, oke gue minta maaf, Ndai… kita balik ya!”
“Gue mau loe cabut kata-kata loe tadi! Rafli nggak kaya gitu, kan? Rafli sayang gue, kan Gas?! Iya, kan?”
Bagas terdiam, lalu menunduk, “Oke, Rafli nggak kaya gitu… Rafli sayang sama loe! Gue, gue bohong tadi…” kata Bagas lirih. “Puas loe!” bentaknya pada Cindai.
‘Plak!’ Cindai menampar Bagas lagi.
“Loe jahat Gas…” ucap Cindai pelan kemudian pingsan. Bagas terpaksa melakukan hal tadi. Kemudian, ia menggendong Cindai pulang.

***

Setelah mengantar Cindai, Bagas  pun pulang. Bagas  termenung di balkon kamarnya. Hujan sudah reda, tinggal dingin yang terasa. Bagas  nggak menyangka semuanya akan terjadi seperti ini. Lalu ia teringat akan hadiah Rafli yang dibawanya tadi. Benar, sebuah kotak musik yang elegan, sayang kacanya pecah dan beberapa bagiannya rusak karena bantingannya tadi. Bagas  mencoba membetulkannya dan mengembalikannya kepada Cindai besok.

***

Keesokan harinya Bagas  mengantar kotak musik itu ke rumah Cindai, tapi tidak bertemu dengan Cindai. Kata Bi Inah Cindai pergi bersama pacarnya. Siapa lagi kalo bukan Rafli. Marah sebenarnya jika ditanya bagaimana perasaan Bagas  sekarang, tapi, sekali lagi ia sudah putus asa dengan keadaan ini. sivia terlalu sayang dengan Rafli. Mungkin suatu saat nanti ia sendiri akan mengetahui kebenarannya. Setelah mengembalikan kotak musik dan sebuah rekaman khusus untuk Cindai, Bagas  pun menuju kolong langit. Cuma di sana ia bisa sedikit lebih tenang.
Cindai menuju ke tempat janjiannya dengan Rafli. Dan di sana Cindai mengetahui kebenaran. Ia melihat Alvin sedang bermesraan dengan seorang cewek. Cindai marah dan menghampiri mereka.
“Ternyata apa yag dibilang Bagas  sahabat gue bener!” kata Cindai setelah menghampiri Rafli.
“Cindai?!” Rafli kaget dan refleks berdiri. Lalu Cindai menyiram Rafli dengan jus yang ada di meja.
“Makasih, Beb. Loe udah buktiin omongan sahabat gue! gue nyesel pernah jadian sama loe! Padahal gue yakin banget sahabat gue yang salah, dan elo serius sayang sama gue!!” cerca Cindai, “tapi ternyata gue salah besar!! Kita putus!!”
“Cindai! Cindai, dengerin gue! Cindai!!” Rafli berteriak memanggil Cindai, tapi Cindai tetap berlalu. Satu hal yang sangat membuatnya menyesal bukanlah Rafli, tapi Bagas . Mengapa ia tidak percaya dengan sahabatnya itu?! mengapa ia justru mempercayai cowok brengsek itu!
“Halo… Gas…” Cindai menelepon Bagas sambil sesegukan.
“Iya, ada apa Ndai?” tanya Bagas  dari kolong langit.
“Gue, gue mau ngomong sama loe… loe dateng ke rumah gue, ya…” Cindai menangis.
“I, iya. Tunggu gue ya, Ndai!”
‘tuut’
Cindai melanjutkan tangisnya. Gas… maafin gue…

***

Bagas  baru akan menaiki motornya saat tiba-tiba segerombolan orang menghampirinya.
“Si, siapa kalian?!” tanya Bagas. Lalu seseorang muncul. “Elo?!”
“Hai, Gas. Loe sukses bikin gue putus sama Cindai. Dan sebelum loe hancurin gue. gue yang akan habisin loe.”
“Apa maksud loe?!”
“Temen-temen! Kalian boleh habisin dia!” kata Rafli. Delapan orang berbaju hitam itu mengeroyok Bagas . Bukan hanya bogeman, tapi tendangan juga diterima Bagas . Terlalu mustahil untuk melawan, jumlah mereka terlalu banyak. Untuk teriak saja sudah tidak memungkinkan, di kolong langit itu sepi sekali.
“Argh!” teriak Bagas  kesakitan.
“Maafin gue, Gas! Tapi kalo Rafli nggak berhasil milikin seorang cewek. Maka orang lain juga nggak boleh memilikinya.”
“Brengsek…Iblis loe, Raf! Argh…” Bagas  muntah darah. “Cindai… gue sayang elo….Argh…” kemudian semuanya gelap…

***

“Bagas !” jerit Cindai dari rumahnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Sudah satu setengah jam berlalu sejak ia menyuruh Bagas  ke rumahnya, tapi, cowok itu nggak kunjung datang.
“Ada apa non teriak-teriak?” tanya Bi Inah.
“Bagas  kok belom dateng ya, Bi?”
“Mungkin masih di jalan. Oiya tadi Den Bagas  nitip ini ke bibi buat Non Cindai.”
“Apa Bi?”
Bi Inah menyodorkan kotak musik itu. “Loh ini kan?” Cindai membuka kotak musik itu. Sulit dipercaya kotak musik itu masih bisa berbunyi. Alunannya pun masih sama seperti baru. Lalu ada secarik kertas.

Gue udah perbaiki kotak musik ini buat loe. Semoga loe suka. Maaf gue udah seenaknya banting kotak musik ini. tapi gue udah berusaha benerin kaya semula kok. Habis loe nerima ini, temuin gue di kolong langit ya! Terus dengerin rekamannya. Love you…
Bagas RDS

Cindai tersenyum kecil. Thanks Gas… I love you too…
‘Trrt Trrt’
Hape Cindai bergetar di atas meja. Hampir aja jatuh kalo saja ia tak segera mengambilnya. Ternyata ada telpon dari rumah Bagas .
“Halo…?”
“Halo, Non Cindai…?” itu suara Bi Umi. Suaranya terdengar parau dan bergetar.
“Iya. Ini Cindai. Ada apa Bi?”
“Non Cindai bisa ke rumah Den Bagas ?”
“Emang ada acara apa?”
“Sudahlah Non. Dateng aja dulu. Nanti Bibi jelaskan…”
“I, iya, Bi… Cindai segera ke sana.”
Dengan membawa segudang pertanyaan, Cindai menaiki matiknya dan menuju rumah Bagas . Perasaan Cindai nggak enak, ditambah nada bicara Bi Umi tadi. Sesampainya di rumah Bagas , Cindai heran, ada banyak orang di sana. Semuanya mengenakan pakaian serba hitam dan terlihat bersedih.
“Yang sabar ya, Ndai…” kata Ivan dan Josia, teman sekelas Bagas  mengelus punggung Cindai.
“A, ada apa ini?!”
“Kita masuk ya…”
Cindai menangis sejadi-jadinya saat mengetahui Bagas terbaring lemah dan kaku diruang tengan, dengan kain putih yg membungkus tubuhnya. Ya, Bagas  meninggal. Kata saksi mata, Bagas  mengalami pengeroyokan oleh banyak orang di taman Rumpun atau kolong langit. Pelakunya sudah ditangkap polisi, kata polisi pelakunya memang mengidap gangguan jiwa. Dan yang membuat Cindai syok adalah orang yang membunuh Bagas  adalah Rafli, cowok yang sempat dibangga-banggakannya. Cowok yang juga sudah memisahkannya dari Bagas , memisahkan langit dengan awannya.
Terbukti sore ini, langit tak berawan sedikit pun, berganti dengan mendung gelap dan gerimis. Mungkin itu tanda bahwa Bagas  sang awan telah benar-benar meninggalkan langitnya, Cindai…
“Kita pulang ya, Ndai…” ajak Josia berusaha membujuk Cindai agar mau meninggalkan makam Bagas, sudah dua jam Cindai hanya duduk memeluk nisan Bagas .
“Loe harus bisa terima kenyataan ini, Ndai…” tambah Ivan.
“Nggak! Gue nggak bisa kehilangan Bagas . Gue punya salah sama dia. Gue belom bales perasaannya ke gue. Gue belom minta maaf. Gue bahkan belom bilang terima kasih ke dia! Gue nggak mau ditinggal Bagas . Bagas … loe harus bangun, ayo kita ke kolong langit bareng. Kita liat langit bareng… liat deh langit sepi nggak ada awannya. Kaya gue sekarang, Gas. Gue mau loe banguun… pliss Gas…”
Josia dan Ivan hanya saling pandang dan miris melihat Cindai yang begitu terpukul.

***

Tiga bulan kemudian di kolong langit…
“Selamat pagi awaan!!” teriak Cindai kepada langit dan awannya. Angin meniup rambut panjangnya. “Selamat pagi Bagas …”
Cindai terlihat lebih ceria dibanding tiga bulan yang lalu. Setidaknya itu yang dilihat Ivan dan Josia. Cindai kini mampu bangkit lagi setelah keterpukulannya. Dan kini Cindai mampu tersenyum manis, semanis dulu. Walau Bagas  sudah tak bisa menikmati senyuman itu, tapi Bagas masih menyaksikan semuanya di balik awan…
Cindai menyiapkan walkmannya, sudah lebih dari ratusan kali ia mendengarkan isi dari rekaman itu, sebuah lagu yang Bagas bawakan dengan iringan gitarannya sendiri. lagu yang pernah dijanjikan Bagas …

Hai Cindai… ini lagu yang pernah gue janjiin dulu. Lagu ini nyeritain tentang awan.. semoga kamu suka..

Ku tak selalu berdiri
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang kulalui
Untuk sekedar bercerita…

Pegang tanganku ini, dan rasakan yang kuderita..
Apa yang kuberikan, tak pernah jadi kehidupan..
Semua yang kuinginkan, menjauh dari kehidupan..

Tempatku melihat di balik awan..
Aku melihat di balik hujan
Tempatku terdiam tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujan…

Pegang tanganku ini, dan rasakan yang kuderita
Genggam tanganku ini
Genggam perihnya kehidupan…

(Peterpan-Di Balik Awan)


3 komentar: