Karya : Aiyas
Facebook : Aiyas Mutiara
Selalu saja, gumpalan putih
koloni awan-awan di langit yang menghiasi langit cerah. Seakan menggambarkan
suasana hati para pemirsanya. Berubah bentuk sesuai keinginannya, terbang
berarak di tingginya langit yang sulit digapai. Awan. Adalah pelipur gundah
Cindai, gadis 12 tahun yang kini sedang berbaring di atas hijau rumput ditemani
sahabatnya dari kecil, Bagas.
“Udah lama kita nggak ke sini.”
Kata Bagas pelan.
“Semua masih sama, kan?”
“Selain umur kita yang makin tua,
semuanya masih sama, ndai.”
“Hahaha. Loe ada-ada aja.”
“Huh…” Bagas menghela nafas
panjang.
“Kenapa, Gas?”
“Gue kangen saat-saat kita maen
bareng di sini dulu…”
“Huh…” Cindai bergantian menghela
nafas, “gue juga, Gas…”
“Mau maen kejar-kejaran lagi?”
Cindai terdiam, berpura-pura
ragu. “Ehm…”
“Ayolah!” Bagas menarik tangan
Cindai sampai ia berdiri. Seperti mengulang masa-masa kecil, mereka bermain
kejar-kejaran. Ya, Cindai dan Bagas memang bersahabat. Kolong langit, hamparan
tanah rumput adalah tempat mereka melepas lelah dan bermain bersama sambil
memandangi langit dan awan.
“Udah ah, Gas. Capek gue hh hh
hh.” kata Cindai yang duduk selonjoran.
“Halah hh hh masa gitu aja hh
udah capek?”
“Emang loe nggak capek? Hh hh..”
“Capek.”
“Huu!” Cinda menoyor kepala
Bagas, kemudian ia berbaring lagi di rerumputan, diikuti Bagas di sampingnya.
“Awan kok nggak pernah capek,
ya?” tanya Cindai memandangi langit.
“Kaya gue, kan?” balas Bagas PD.
“Ha? Loe aja udah ngosngosan
begitu, bisa bilang nggak pernah capek?”
“Eh, ndai. Denger ya, gue kan
udah sering bilang. Gue itu awan, loe langitnya, awan itu setia banget sama
langit. Nggak pernah capek nemenin langit di atas sana. Sama kaya gue yang mau
setia nemenin elo.”
Cindai terdiam sesaat, “masa
sih?”
Bagas mengangguk mantap.
“Gue punya lagu khusus buat kita,
langit dan awan.”
“Oya? Apa itu?”
“Ehm, lain kali gue pasti
nyanyiin ke elo.”
“janji ya?”
“Iya!”
Kemudian semuanya hening hingga
beberapa menit.
“Udah gelap. Pulang yuk!” ajak
Bagas pada Cindai. Baru saja ia akan berdiri, dilihatnya Cindai yang tertidur
pulas di atas rumput. Bagas tersenyum kecil. Wajah tertidur Cindai nggak pernah
berubah dari dulu. Selalu aja terlihat manis. Perasaan Bagas juga masih sama,
ia masih menyimpan perasaan khusus pada Cindai. Hanya saja hatinya belum berani
mengungkapkannya. Bagas mengangkat Cindai dan menggendongnya pulang…
***
“Kyaaa!!” teriak Cindai di kelas.
“Kenapa sih loe?” tanya Bagas.
Mereka memang sekelas.
“Loe tau kakak kelas kita yang
namanya Rafli, kan?”
“Ehm… tau. Emang kenapa?”
“Ternyata dia juga ikut ekskul
musik. Jadi setiap Senin gue bisa ketemu dia, deh…”
“Emang kenapa kalo loe ketemu
sama dia terus?”
“Yah elo gimana sih, Gas. Gue kan
udah pernah bilang, gue naksir sama Kak Rafli. Gue suka sama dia. Dan sekarang
peluang buat dapetin dia lebih besar! Aih, senengnya…”
Bagas terdiam, ada sedikit rasa
jealous di hatinya, dia pun lebih memilih diam sambil mendengarkan Cindai.
“Loe kok diem?” tanya Cindai.
“Nggak apa-apa. Loe seneng
sekarang?”
“Bangeet, Gas…”
“Kalo gitu gue juga seneng.”
Jawab Bagas kemudian beranjak dan meninggalkan Cindai yang bingung.
Sore ini, Bagas merenung di
kolong langit, kali ini sendiri tanpa Cindai di sampingnya. Memang ini yang ia
inginkan, menyendiri, karena Cindai mulai sibuk dengan Rafli yang ia puja-puja
itu. Kemarin, Cindai bercerita kalau Rafli satu ekstrakulikuler dengannya, lalu
tadi pagi Cindai bilang mau latihan bareng dengan Rafli. Rasa-rasanya Bagas
seperti tersingkirkan. Tapi, huh… mungkin tidak baik terlalu negative thinking
kaya begini. Berulang kali, Bagas menghibur dirinya sendiri dengan keyakinan
bahwa Cindai tidak akan melupakannya apalagi menyingkirkannya, Cindai hanya
terlalu senang karena impiannya untuk lebih kenal dengan Rafli terwujud
sampai-sampai ia sedikit, sekali lagi sedikiit melupakan Bagas. Ya, semoga itu
benar.
***
“Pulang bareng Rafli?” tanya Bagas
sedikit kaget saat mendengar penjelasan Cindai di kelas pagi ini.
“Iya. Loe tau nggak. Gue seneeeng
banget bisa diboncengin sama Rafli. Dia tuh…”
“Brak!” Bagas menggebrak mejanya
dan berlalu. Cindai kaget sekali melihat respon sahabatnya itu.
“Gas!” panggil Cindai kemudian
mengejar Bagas.
“Gas, tunggu! Loe kenapa?! Loe
marah sama gue?!” Cindai mengejar Bagas, mereka berbicara sambil berjalan.
“Nggak!” jawab Bagas jutek.
“Nggak gimana? Oke, kalo loe
marah, gue minta maaf. Tapi jelasin ke gue kenapa loe marah?!”
Bagas berhenti dan menatap Cindai
tajam, “Gue nggak marah.” Lalu pergi menuju parkiran, Cindai yang lelah
mengejar akhirnya diam dan menyaksikan Bagas berlalu.
“Bagas…” lirih Sivia putus asa.
“Ndai?” kata seseorang di
belakang Cindai.
“Eh, Kak Rafli?”
“Kita jadi pulang bareng, kan?”
“I, iya.”
“Terus kenapa kamu di sini?”
“He? Eng, nggak kok. Itu si…”
Sebenarnya Cindai masih ingin mengejar Bagas, tapi…
“Yaudah ayuk buruan ke parkiran!”
Cindai dan Rafli menuju ke
parkiran dan di sana Cindai berpapasan dengan Bagas. Masih jelas terlihat Bagas
marah, dan Bagas berusaha menghindari Cindai. Cindai bingung, kenapa sebenernya
Bagas.
“Yuk Ndai!” ajak Rafli agar Cindai
naik ke jok motor Ninjanya.
“I, iya.”
***
From: Cindai Chindai
Yel, loe marah sama gue? mau nggak kita
ketemuan di kolong langit sore ini?
Itu bunyi sms dari Cinda yang
mendarat di hape Bagas, membuat Bagas terbangun dari tidurnya. Wajahnya berubah
senang.
To: Cindai Chindai
Oke. Gue tunggu loe jam 4
Seperti janji mereka, Bagas pun
pergi ke kolong langit, jam setengah empat, tentu belum ada siapa-siapa di
sana. Oke, mungkin gue harus sabar nunggu Cindai. Jujur, gue kangen banget.
Batin Bagas sambil tiduran di rerumputan.
***
Cindai mengenakan cardigannya,
cardigan yang baru saja dibelikan Rafli sepulang sekolah tadi sebagai tanda
jadian. Ya, mereka jadian sepulang sekolah tadi. Rafli mengajak Cindai ke kafe,
dan menyatakan perasaannya.
‘Trrt Trrt’ hape Cindai bergetar.
“Halo?” sapa Cindai.
“Hai, beb. Ada acara nggak? Aku
mau ajak kamu ke kafe tadi nih. Aku mau rayain jadian kita.”
“Eh?”
“Gimana, beb?”
Cindai melirik ke jam monol putih
di tangan kirinya, jam setengah empat. Masih ada waktu setengah jam untuk berdua
dengan Rafli sebelum pergi ke kolong langit.
“Oke, tapi aku nggak bisa
lama-lama.”
“Aku jemput kamu tiga menit
lagi.”
***
Bagas masih setia menunggu.
16.15. itu angka yang tertera pada jam digital casionya. Mungkin Cindai masih
di jalan. Pikirnya positif. Bagas pun kembali merebahkan tubuhnya.
***
“Kamu suka makanannya?” tanya Rafli.
“Suka. Enak kok.” Jawab Cindai
sambil sesekali melirik ke jam tangannya.
“Kamu kelihatan gelisah. Kamu
buru-buru?”
“Ehm, maaf Kak. Sebenernya aku
ada janji sama temenku jam 4 tadi.” Jawab Sivia akhirnya.
Rafli melihat jam, “Sekarang udah
lewat lima belas menit.”
“Iya aku tau. Gimana ya, Kak?”
“Janji sama siapa emangnya?”
“Bagas.”
“Oh, Bagas. Aku kira dia pasti
bisa ngertiin kalo kamu lagi ada urusan sampe-sampe nggak bisa nepatin janji.”
“Oya?”
“Iya. Bagas nggak akan marah.”
“Oke. Bagas pasti ngertiin aku.”
Rafli tersenyum kecil lalu
mengecup pipi Sivia.
“Kak?” Cindai kaget.
“Nggak usah panggil kak. Rafli
aja. Habis ini kita ke mall ya.”
Cindai mengangguk, rona merah di
pipinya perlahan menjalar lembut.
***
Bagas terbangun dari tidurnya
yang cukup lama. Dan mendapati hari sudah gelap. Refleks Bagas melihat ke jam
tangannya. 18.30. setengah tujuh malam! Itu artinya Bagas menunggu di tempat
itu selama tiga jam. Tiga jam Bagas menanti kedatangan Cindai. Cindai yang tiga
jam yang lalu berjanji akan menemuinya di tempat itu. Bagas mengecek hapenya.
Mungkin ada sms dari Sivia. Tapi ternyata nihil. Nggak ada satu sms pun dari Cindai.
Bagas menahan amarahnya. Kemudian mengambil motornya dan ngebut pulang.
***
“Makasih, ya Raf…” kata Cindai
kepada Rafli.
“Iya. Aku pulang ya, beb. Love
you…”
“Love you too…”
Rafli melaju pergi. Dari jauh Bagas
melihat adegan itu. Jadi ini alasannya kenapa Cindai bisa lupa sama janjinya ke
gue. batin Bagas marah.
Malamnya, Cindai mencoba
menelepon Bagas tapi nggak diangkat, tadi Bagas mematikan hapenya. Cindai
merasa bersalah, tapi perkataan Rafli tadi meyakinkannya agar tidak khawatir. Cindai
melihat tumpukan plastik berisi belanjaan yang tadi dibeliin Rafli. Senyumnya
tersungging lembut.
***
Pagi ini hujan turun gerimis. Tak
ada awan yang melintasi langit seperti biasanya. Mungkin itu gambaran hati Bagas
sekarang ini. mendung, gerimis dan sakit…
Bagas memasuki kelasnya dengan
lelah. Kemudian duduk di bangkunya.
“Bagaaas!!!” teriak seseorang
yang memasuki kelas. Cindai yang rambutnya sedikit basah kena air hujan. Bagas
nggak memberikan respon apa-apa.
“Bagas, loe tau nggak! Gue jadian
sama Rafli!”
‘Jdaar!’ suara petir bersamaan
dengan kagetnya Bagas.
“Teruus, tadi dia jemput gue ke
rumah dan nganter gue ke sekolah! Ya, ampun Gas. Gue seneeng banget!” Cindai
bercerita dengan penuh semangat. Tanpa memikirkan perasaan Bagas yang sedari
tadi menunduk.
“Gas, loe seneng, kan?”
Bagas mengangkat wajahnya perlahan.
“Jadi itu alasan kenapa loe ngebiarin gue nunggu tiga jam di kolong langit?”
tanya Bagas tanpa marah sedikit pun.
“Eh? E, elo nungguin gue?”
“Jelaslah. Gue kan setia sama
loe.”
“Ma, maaf, Gas. Gu, gue nggak
bermaksud…”
“Loe seneng nggak, kemaren?” tanya
Bagas berusaha tersenyum.
“Se, seneng banget.”
“Kalo gitu gue juga seneng.”
Jawab singkat Bagas sambil tersenyum pahit.
“Loe serius? Loe nggak marah??”
tanya Cindai, dibalas anggukan mantap Bagas, “Makasih ya, Gas. Loe emang
sahabat terbaik gue!” Cindai memeluk Bagas erat.
‘Iya, Ndai. Cuma SAHABAT’
***
Bagas menstarter tigernya, ia
ingin segera pulang dan menumpahkan semuanya di kolong langit, menceritakan
semuanya pada arakan awan tentang kejamnya cinta sebelah tangan. Terlihat dari
jauh, Cindai sedang dipeluk Rafli di depan kelasnya. Pemandangan itu membuat Bagas
memacu motornya kencang.
“Awaaaan!!!” teriak Bagas
merentangkan kedua tangannya menengadah ke langit sesampainya di kolong langit,
“kenapa cinta itu kejam bagi gue!!!”
Bagas duduk bersimpuh, “Hal yang
paling menyakitkan di hati gue adalah ngeliat Cindai, cewek yang gue sayang
sama cowok laen! Dan itu baru aja terjadi sama gue!! Apa yang musti gue
lakuin?! Di satu sisi, gue sayang banget sama Cindai. Tapi di sisi laen, gue
nggak tega liat dia sedih, dia sayang banget sama Rafli, dan belumm tentu Cindai
ngerasain kebahagiaan kalo sama gue!!”
Bagas merasakan gerimis mulai
turun. Membasahi rambutnya perlahan. Tampaknya awan ikut menangis.
Bagas memutuskan untuk pulang,
setidaknya ia sudah cukup lega. Dan ia bisa sedikit merelakan cintanya kandas
asalkan Cindai bahagia.
Di jalan Bagas terkejut saat
mendapati seseorang keluar dari sebuah kafe, sepasang kekasih yang tampak
tertawa bahagia, itu Rafli dan sialnya cewek di sampingnya bukan Cindai. Shit! Bagas
memacu motornya lebih kencang untuk menyusul cowok brengsek itu. mereka
memasuki jazz merah dan melaju. Tapi, sialnya Bagas kehilangan jejak mereka
karena lampu merah. Cindai harus tau ini!
***
Keesokan harinya…
“Bagaaas!! Liat deh gue dikasih
sesuatu sama Rafli!” kata Cindai dari dalam kelas menyambut Bagas yang baru
datang. Cindai membawa sebuah kotak yang isinya kotak musik.
“Semalem Rafli ngasih ini ke gue.
ya ampuun, gue seneng banget, Gas…” kata Sivia kegirangan. Tapi, Bagas merebut
kotak itu dan membantingnya ke lantai.
‘Praang!’
“Gas!! Apa-apaan sih loe!!” marah
Cindai lalu memungut kotak itu di lantai, tapi tangannya dicegah Bagas.
“Ngapain loe bangga-banggain
barang dari cowok brengsek kaya Rafli?!” bentak Bagas.
“Maksud loe apa sih, Gas!!”
“Asal loe tau, ya! Cowok yang loe
puja-puja itu Cuma cowok playboy yang maenin elo!!”
‘PLAK!’ Cindai menampar pipi kiri
Bagas.
“Jangan asal ngomong loe, Gas!! Rafli
nggak kaya gitu!”
Bagas mengusap tepi bibirnya yang
berdarah, “gue nggak bohong, Ndai. Gue liat Rafli jalan sama cewek laen
kemaren! Loe harus percaya sama gue, Ndai!”
“Nggak!! Rafli gue nggak kaya
gitu, Gas! Rafli sayang sama gue! dia sendiri yang bilang! Loe pasti bohong!
Dari awal loe nggak suka sama Rafli, kan? Makanya loe fitnah dia kaya gini!”
“Cindai! Demi Tuhan gue nggak
kaya gitu!!”
“Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Gas!
Cowok kaya loe nggak pantes nyebut nama Tuhan! Loe bukan sahabat gue lagi!” Cindai
berlari meninggalkan Bagas.
“Cindai! Percaya sama gue! Gue
Cuma nggak mau loe kecewa karna cowok sialan itu! Gue sayang loe, Ndai!!”
teriak Bagas tapi nggak digubris Cindai. Ia tetap berlalu, mungkin pulang.
Sementara Bagas duduk tersungkur di lantai meremas rambutnya. Kemudian
dipungutnya kotak berisi music box itu.
***
“Awaan!! Kenapa orang yang gue
percaya justru mau misahin gue dari cinta gue! kenapa Bagas tega ngelakuin itu
sama gue! semua itu bohong, kan?! Itu nggak bener, kan?! Rafli, nggak mungkin
kaya gitu, kan? Gue sayang sama Rafli…” Cindai mengadu pada awan di kolong
langit. Ia menangis sejadi-jadinya. Dan lagi-lagi hujan turun membasahi air
mata Cindai yang duduk memeluk lututnya sambil sesegukan.
***
Bagas menuju kelas Rafli dan
sebuah bogeman mendarat di mata kiri Rafli.
“Apa-apaan loe!!” bentak Rafli.
“Gue yang nanya! Apa-apaan loe!
Loe udah selingkuh dari Cindai, kan?! Loe maenin Cindai, kan! Loe tega
ngelakuin itu sama cewek sebaik Cindai! Brengsek loe!”
“Heh, apa urusan loe!”
“Asal loe tau ya! Gue ngerelain Cindai
sama loe karena gue kira loe pasti bisa bahagiain dia! Tapi ternyata nggak! Loe
malah nyakitin dia!”
“Terus kenapa? Loe suka sama dia!
Pacarin aja dia! Gue udah nggak butuh dia lagi!”
‘Bugg!’ sekali lagi Bagas menonjok muka Rafli, dan Rafli pun membalas.
“Gue akan hancurin elo, Raf!
semua orang akan tau siapa loe sebenernya! Siapa Rafli dibalik topengnya! Liat
aja Raf!” Bagas menunjuk muka Rafli,
kemudian beranjak pergi, sambil memegangi tepi bibirnya. Rafli sedikit begidik
dengan perkataan Bagas barusan.
Bagas mencoba menyusul Cindai ke kolong langit, ia
yakin Cindai ada di sana. Dan benar saja di sana Bagas mendapati sosok Cindai yang pingsan kedinginan
di rumput.
“Cindai!!” panggil Bagas . “Cindai
loe kenapa?!” kata Bagas mengguncang-guncangkan tubuh Cindai yang mulai
kaku.
“Ngapain loe ke sini?! Loe jahat
sama gue, Gas!”
“Ndai, plis ayo kita pulang!”
“Nggak gue masih mau di sini! Gue
mau ngadu ke awan kalo loe udah jahat sama gue!”
“Cindai, oke gue minta maaf, Ndai…
kita balik ya!”
“Gue mau loe cabut kata-kata loe
tadi! Rafli nggak kaya gitu, kan? Rafli sayang gue, kan Gas?! Iya, kan?”
Bagas terdiam, lalu menunduk,
“Oke, Rafli nggak kaya gitu… Rafli sayang sama loe! Gue, gue bohong tadi…” kata
Bagas lirih. “Puas loe!” bentaknya pada Cindai.
‘Plak!’ Cindai menampar Bagas
lagi.
“Loe jahat Gas…” ucap Cindai
pelan kemudian pingsan. Bagas terpaksa melakukan hal tadi. Kemudian, ia
menggendong Cindai pulang.
***
Setelah mengantar Cindai, Bagas pun pulang. Bagas termenung di balkon kamarnya. Hujan sudah
reda, tinggal dingin yang terasa. Bagas nggak menyangka semuanya akan terjadi seperti
ini. Lalu ia teringat akan hadiah Rafli yang dibawanya tadi. Benar, sebuah
kotak musik yang elegan, sayang kacanya pecah dan beberapa bagiannya rusak
karena bantingannya tadi. Bagas mencoba
membetulkannya dan mengembalikannya kepada Cindai besok.
***
Keesokan harinya Bagas mengantar kotak musik itu ke rumah Cindai,
tapi tidak bertemu dengan Cindai. Kata Bi Inah Cindai pergi bersama pacarnya.
Siapa lagi kalo bukan Rafli. Marah sebenarnya jika ditanya bagaimana perasaan Bagas
sekarang, tapi, sekali lagi ia sudah
putus asa dengan keadaan ini. sivia terlalu sayang dengan Rafli. Mungkin suatu
saat nanti ia sendiri akan mengetahui kebenarannya. Setelah mengembalikan kotak
musik dan sebuah rekaman khusus untuk Cindai, Bagas pun menuju kolong langit. Cuma di sana ia bisa
sedikit lebih tenang.
Cindai menuju ke tempat
janjiannya dengan Rafli. Dan di sana Cindai mengetahui kebenaran. Ia melihat
Alvin sedang bermesraan dengan seorang cewek. Cindai marah dan menghampiri
mereka.
“Ternyata apa yag dibilang Bagas sahabat gue bener!” kata Cindai setelah
menghampiri Rafli.
“Cindai?!” Rafli kaget dan
refleks berdiri. Lalu Cindai menyiram Rafli dengan jus yang ada di meja.
“Makasih, Beb. Loe udah buktiin
omongan sahabat gue! gue nyesel pernah jadian sama loe! Padahal gue yakin
banget sahabat gue yang salah, dan elo serius sayang sama gue!!” cerca Cindai,
“tapi ternyata gue salah besar!! Kita putus!!”
“Cindai! Cindai, dengerin gue! Cindai!!”
Rafli berteriak memanggil Cindai, tapi Cindai tetap berlalu. Satu hal yang
sangat membuatnya menyesal bukanlah Rafli, tapi Bagas . Mengapa ia tidak
percaya dengan sahabatnya itu?! mengapa ia justru mempercayai cowok brengsek
itu!
“Halo… Gas…” Cindai menelepon Bagas
sambil sesegukan.
“Iya, ada apa Ndai?” tanya Bagas dari kolong langit.
“Gue, gue mau ngomong sama loe…
loe dateng ke rumah gue, ya…” Cindai menangis.
“I, iya. Tunggu gue ya, Ndai!”
‘tuut’
Cindai melanjutkan tangisnya. Gas…
maafin gue…
***
Bagas baru akan menaiki motornya saat tiba-tiba
segerombolan orang menghampirinya.
“Si, siapa kalian?!” tanya Bagas.
Lalu seseorang muncul. “Elo?!”
“Hai, Gas. Loe sukses bikin gue
putus sama Cindai. Dan sebelum loe hancurin gue. gue yang akan habisin loe.”
“Apa maksud loe?!”
“Temen-temen! Kalian boleh
habisin dia!” kata Rafli. Delapan orang berbaju hitam itu mengeroyok Bagas .
Bukan hanya bogeman, tapi tendangan juga diterima Bagas . Terlalu mustahil
untuk melawan, jumlah mereka terlalu banyak. Untuk teriak saja sudah tidak
memungkinkan, di kolong langit itu sepi sekali.
“Argh!” teriak Bagas kesakitan.
“Maafin gue, Gas! Tapi kalo Rafli
nggak berhasil milikin seorang cewek. Maka orang lain juga nggak boleh
memilikinya.”
“Brengsek…Iblis loe, Raf! Argh…” Bagas
muntah darah. “Cindai… gue sayang
elo….Argh…” kemudian semuanya gelap…
***
“Bagas !” jerit Cindai dari
rumahnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Sudah satu setengah jam berlalu
sejak ia menyuruh Bagas ke rumahnya,
tapi, cowok itu nggak kunjung datang.
“Ada apa non teriak-teriak?”
tanya Bi Inah.
“Bagas kok belom dateng ya, Bi?”
“Mungkin masih di jalan. Oiya
tadi Den Bagas nitip ini ke bibi buat
Non Cindai.”
“Apa Bi?”
Bi Inah menyodorkan kotak musik
itu. “Loh ini kan?” Cindai membuka kotak musik itu. Sulit dipercaya kotak musik
itu masih bisa berbunyi. Alunannya pun masih sama seperti baru. Lalu ada
secarik kertas.
Gue udah perbaiki kotak musik ini buat loe.
Semoga loe suka. Maaf gue udah seenaknya banting kotak musik ini. tapi gue udah
berusaha benerin kaya semula kok. Habis loe nerima ini, temuin gue di kolong
langit ya! Terus dengerin rekamannya. Love you…
Bagas RDS
Cindai tersenyum kecil. Thanks
Gas… I love you too…
‘Trrt Trrt’
Hape Cindai bergetar di atas
meja. Hampir aja jatuh kalo saja ia tak segera mengambilnya. Ternyata ada
telpon dari rumah Bagas .
“Halo…?”
“Halo, Non Cindai…?” itu suara Bi
Umi. Suaranya terdengar parau dan bergetar.
“Iya. Ini Cindai. Ada apa Bi?”
“Non Cindai bisa ke rumah Den Bagas
?”
“Emang ada acara apa?”
“Sudahlah Non. Dateng aja dulu.
Nanti Bibi jelaskan…”
“I, iya, Bi… Cindai segera ke
sana.”
Dengan membawa segudang
pertanyaan, Cindai menaiki matiknya dan menuju rumah Bagas . Perasaan Cindai
nggak enak, ditambah nada bicara Bi Umi tadi. Sesampainya di rumah Bagas , Cindai
heran, ada banyak orang di sana. Semuanya mengenakan pakaian serba hitam dan
terlihat bersedih.
“Yang sabar ya, Ndai…” kata Ivan dan
Josia, teman sekelas Bagas mengelus
punggung Cindai.
“A, ada apa ini?!”
“Kita masuk ya…”
Cindai menangis sejadi-jadinya
saat mengetahui Bagas terbaring lemah dan kaku diruang tengan, dengan kain
putih yg membungkus tubuhnya. Ya, Bagas meninggal. Kata saksi mata, Bagas mengalami pengeroyokan oleh banyak orang di
taman Rumpun atau kolong langit. Pelakunya sudah ditangkap polisi, kata polisi
pelakunya memang mengidap gangguan jiwa. Dan yang membuat Cindai syok adalah
orang yang membunuh Bagas adalah Rafli,
cowok yang sempat dibangga-banggakannya. Cowok yang juga sudah memisahkannya
dari Bagas , memisahkan langit dengan awannya.
Terbukti sore ini, langit tak
berawan sedikit pun, berganti dengan mendung gelap dan gerimis. Mungkin itu
tanda bahwa Bagas sang awan telah
benar-benar meninggalkan langitnya, Cindai…
“Kita pulang ya, Ndai…” ajak Josia
berusaha membujuk Cindai agar mau meninggalkan makam Bagas, sudah dua jam Cindai
hanya duduk memeluk nisan Bagas .
“Loe harus bisa terima kenyataan
ini, Ndai…” tambah Ivan.
“Nggak! Gue nggak bisa kehilangan
Bagas . Gue punya salah sama dia. Gue belom bales perasaannya ke gue. Gue belom
minta maaf. Gue bahkan belom bilang terima kasih ke dia! Gue nggak mau
ditinggal Bagas . Bagas … loe harus bangun, ayo kita ke kolong langit bareng.
Kita liat langit bareng… liat deh langit sepi nggak ada awannya. Kaya gue
sekarang, Gas. Gue mau loe banguun… pliss Gas…”
Josia dan Ivan hanya saling
pandang dan miris melihat Cindai yang begitu terpukul.
***
Tiga bulan kemudian di kolong
langit…
“Selamat pagi awaan!!” teriak Cindai
kepada langit dan awannya. Angin meniup rambut panjangnya. “Selamat pagi Bagas …”
Cindai terlihat lebih ceria
dibanding tiga bulan yang lalu. Setidaknya itu yang dilihat Ivan dan Josia. Cindai
kini mampu bangkit lagi setelah keterpukulannya. Dan kini Cindai mampu
tersenyum manis, semanis dulu. Walau Bagas sudah tak bisa menikmati senyuman itu, tapi Bagas
masih menyaksikan semuanya di balik awan…
Cindai menyiapkan walkmannya,
sudah lebih dari ratusan kali ia mendengarkan isi dari rekaman itu, sebuah lagu
yang Bagas bawakan dengan iringan gitarannya sendiri. lagu yang pernah
dijanjikan Bagas …
Hai Cindai… ini lagu yang pernah
gue janjiin dulu. Lagu ini nyeritain tentang awan.. semoga kamu suka..
Ku tak selalu berdiri
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang kulalui
Untuk sekedar bercerita…
Pegang tanganku ini, dan rasakan yang
kuderita..
Apa yang kuberikan, tak pernah jadi kehidupan..
Semua yang kuinginkan, menjauh dari kehidupan..
Tempatku melihat di balik awan..
Aku melihat di balik hujan
Tempatku terdiam tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujan…
Pegang tanganku ini, dan rasakan yang kuderita
Genggam tanganku ini
Genggam perihnya kehidupan…
(Peterpan-Di Balik Awan)
keren ceritanya keren abis buat orang yang baca merinding
BalasHapusNangis :"(
BalasHapusNangis :"(
BalasHapus